PALEMBANG — Pemerintah provinsi Sumatera Selatan (pemprov Sumsel) terus berupaya melakukan pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel. Pencegahan karhutla lebih diprioritaskan di Sumsel karena pada 2015 menjadi perhatian dunia atas terbakarnya 736.563 hektare lahan yang berujung pada bencana kabut asap.

Sebelumnya, Alex Noerdin menerbitkan status siaga darurat bencana asap sejak Maret 2016 untuk lebih dini dalam upaya pencegahan karhutla. Menurutnya, pemerintah terus berupaya memadamkan titik api di Sumsel. “Ini masih kita jaga jangan sampai lahan gambut terbakar karena sangat sulit dipadamkan, kalau lahan mineral relatif lebih mudah,” tegasnya.

Dikatakan Alex Noerdin, Kamis (01/9) untuk pencegahan karhuta tahun ini menunjukan perubahan yang meningkat cukup signifikan. “Upaya Sumsel lebih bagus hasilnya dibanding tahun kemarin. Ini masih banyak hujan, pokoknya kita akan terus berusaha,” kata dia.

Sebelumnya BMKG merilis bahwa puncak kemarau di Sumsel akan terjadi di bulan Agustus dengan ditandai rendahnya intensitas hujan di beberapa lokasi. Sumsel sempat memasuki kategori zona merah atau rawan terbakar pada 4 Agustus dan mulai 21 Agustus 2015 beralih ke zona biru (aman) berdasarkan analisis parameter cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

Diakuinya, keberhasilan Sumsel mencegah karhutla pada tahun ini tak terlepas dari dukungan dari berbagai pihak. ” Kita banyak-banyak berdoa agar kejadian karhutla ini berkurang dan tak terjadi seperti tahun sebelumnya,” imbau Alex Noerdin. (juniara)

Related Post