PALEMBANG — Pemerintah provinsi Sumatera Selatan (pemprov Sumsel) terus berupaya melakukan sosialisasi dan pembinaaan kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan saat waktu tanam tiba.

Upaya pendampingan pemprov Sumsel bagi masyarakat dilakukan secara bersama dengan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumsel dan kabupaten/kota serta jajaran Kodam II Sriwijaya. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang berujung dengan bencana kabut asap.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikuktura, Erwin Noerwibowo, Rabu (21/9) mengatakan, pihaknya sengaja meminta bantuan Kodam II Sriwijaya dalam hal ini Korem Garuda Dempo yang menurunkan bantuan sebanyak 266 personil Tentara Nasional Indonesia (TNI). ” Personil TNI sudah kita tempatkan kurang lebih sudah mencapai 20 hari dilapangan,” ujar Erwin.

Diakuinya, banyak tantangan yang dihadapi pihaknya di lapangan, terutama kesulitan untuk merubah pola perilaku masyarakat yang masih menjadikan kebiasaan membakar lahan jika masa tanam tiba. “Kita terus berusaha dengan memberikan mereka pengertian dan pemahaman juga tentunya kita mendampingi mereka dengan bantuan sarana,” kata dia.

Dijelaskan Erwin, langkah yang diambil dirinya dalam melakukan sosialisasi merubah pola pikir masyarakat dengan mengemukakan dampak apa saja yang terjadi jika kebiasaan masyarakat terus dibudayakan.

Selain itu, diungkapkan Erwin, pihaknya mengajak masyarakat untuk mengubah pola tanam dalam bertani yang biasanya masa bertani dimulai bulan November menjadi Bulan September, sehingga pada bulan Januari masyarakat sudah bisa panen dan bulan selanjutnya bisa ditanami kembali dengan jenis tanaman pangan yang berbeda.

“Yang terpenting pola pikir masyarakat sudah mau ikut dalam program ini dan tujuannya adalah kesejahteraan mereka disisi lain meniadakan kebakaran lahan dan kesejahteraan masyarakat juga meningkat,” katanya.

Menurut Erwin, ini adalah langkah yang pas untuk mengoptimalkan potensi lahan yang ada serta proses produksi tanaman pangan bertambah dan bermanfaat. “Kalau ini sudah bermanfaat, tentunya petani akan menjaga kebiasaan ini,” ungkapnya

Erwin berkisah, pernah ada suatu kejadian di daerah Air Sugihan ada masyarakatnya yang mencoba membakar lahan sehingga para tetangga arah karena tanaman disekitarnya ikut mati.

“Secara otomatis langkah yang kita ambil untuk melatih masyarakat mengetahui cara terbaik mengoptimalkan lahannya dengan tujuan peningkatan kesejahteraan mereka,” tutupnya.(juniara)

Related Post