Meski masih menjalani sanksi FIFA, namun rekrutan anyar Sriwijaya FC Simone Quintieri mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan menurut pemain asal Italia ini, sepakbola Indonesia seharusnya bisa menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara.

“Saat saya memutuskan menerima tawaran dari SFC, saya sudah diberi penjelasan bahwa Indonesia saat ini masih terkena hukuman FIFA dan tidak ada liga yang digulirkan, hanya berupa turnamen. Tapi saya pun diberi penjelasan bahwa di bulan Februari nanti, bakal ada kompetisi yang akan digelar oleh PSSI, karena itu saya tetap menerima untuk bermain disini,” jelasnya saat ditemui di Solo, Senin (16/11) siang.

Menurutnya, perkembangan sepakbola di kawasan Asia Tenggara ini saat ini pun sangat berkembang pesat dan dibuktikan dengan keberhasilan klub asal Malaysia, Johor Darul Tazim menjuarai ajang AFC Cup 2015. “Itu hal yang sangat positif, dalam pandangan saya pemain lokal Indonesia lebih baik dari Malaysia, jadi kedepan SFC juga harus berbicara banyak di level Asia seperti JDT yang berhasil mengalahkan klub asal Kuwait di final AFC Cup lalu,” ungkapnya.

Diakuinya, sebelum bergabung ke SFC, dirinya pun sempat menerima tawaran serupa dari salah satu klub di Malaysia. “Jika ingin mencari bayaran yang lebih besar, tentu saya akan memilih Malaysia. Namun sekarang saya hanya mencari kenyamanan dalam bermain, dari sisi atmosfer pertandingan, suporter Indonesia dapat disamakan dengan Italia soal fanatismenya dan itu alasan saya lebih memilih SFC,” bebernya.

Terkait SFC sendiri, pemain yang pernah merumput bersama Semarang United di era IPL ini mengaku sebagai jodoh yang tertunda. “Di kompetisi QNB League lalu, saya sudah ikut seleksi dan nyaris bergabung. Tapi saat itu saya mengalami cedera dan manajemen sudah menyiapkan pemain lain. Tapi komunikasi dengan coach Bendol tidak terputus dan beliau meminta saya agar kembali ke Indonesia di lain waktu, hasilnya sekarang saya menjadi bagian dari tim ini,” tambahnya.

Sosok Bendol sendiri juga dianggapnya sebagai salah satu alasan mengapa dirinya memutuskan bergabung ke SFC. “Dia merupakan salah satu pelatih terbaik di Indonesia dan saya sudah banyak mendengar hal positif tentangnya. Ditambah materi pemain seperti Tibo, Patrich, Osas atau Ferdinan, semuanya akan sangat menyenangkan nantinya,” ujar pemain yang terakhir merumput di Liga Malta ini.

Soal ambisinya bersama SFC, Simone menegaskan dirinya hanya ingin memberikan penampilan yang terbaik walau diakuinya peluang untuk menjuarai turnamen PJS terbuka lebar. Begitu pun saat ditanya mengenai target mencetak gol, dirinya menyatakan lebih akan memprioritaskan kepentingan tim. “Apalagi saya sebagai pemain nomor 10, membuat assist atau membuka ruang jauh lebih penting, soal gol biarlah diselesaikan pemain lain,” tandasnya.

Adaptasinya di tim SFC juga menurutnya berjalan lancar tanpa hambatan. “Indonesia itu punya banyak kesamaan dengan Italia, mulai dari makanan atau masyarakatnya yang gila sepakbola. Saya pernah tinggal di Semarang, jadi saya tidak kaget saat harus ke Solo atau besok ke Malang, masyarakatnya juga menerima saya dengan baik, satu kata yang selalu saya ingat yaitu matur nuwun,” ujarnya sambil bercanda.

Sementara itu, Beny Dollo menjelaskan bahwa dirinya sengaja merekrut Simone sebagai seorang trequarista di SFC. “Di QNB lalu, jika tidak cedera dia sudah kita rekrut menggantikan Morimakan Koita. Sosoknya mengingatkan saya pada Rodrigo Araya, salah satu playmaker asing yang pernah bermain di Liga Indonesia,” jelasnya singkat.