PALEMBANG — Tidak hanya disibukkan dengan proses evaluasi pemain, manajemen Sriwijaya FC menyebut saat ini juga tengah mencari pendamping untuk caretaker tim Hartono Ruslan. Pasalnya, pelatih senior ini dianggap perlu didampingi seorang pelatih tambahan untuk menangani laskar wong kito kedepannya.

Menariknya, pendamping tersebut nantinya tidak hanya berasal dari posisi pelatih kepala, namun dapat juga seorang asisten pelatih. “Memang saat ini usai menuntaskan evaluasi di sektor pemain, kita juga akan melanjutkan dengan rencana penambahan pelatih,” ungkap sekretaris tim SFC, Achmad Haris saat dihubungi Selasa (15/8) sore.

“Tetapi memang kita masih terus mengkaji, apakah nanti perlu mendatangkan pelatih kepala atau cukup 1 orang asisten pelatih tambahan. Karena bagaimanapun juga, lisensi yang dimiliki oleh Hartono Ruslan sejauh ini sudah cukup memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh PSSI dan operator kompetisi,” jelasnya.

Dari 8 pertandingan yang sudah dimainkan sejak dirinya menangani tim usai Idul Fitri, akhir Juni lalu, Hartono Ruslan membuat catatan 2 kali menang, 5 kali imbang dan 1 kali kalah. Satu-satunya kekalahan yang diterima diperoleh di laga debut Hartono bersama SFC saat melawat ke kandang Arema FC (7/7) lalu.

Diakuinya, sejumlah nama pelatih beken di tanah air sudah mengirimkan lamaran kepada pihaknya dan beberapa diantaranya pun telah berkomunikasi secara intensif. “Dalam waktu dekat akan ada keputusan terkait hal ini, namun sekarang fokus kita adalah menuntaskan evaluasi pemain karena tenggat waktunya pada 18 Agustus serta persiapan tim menuju laga terdekat melawan Bhayangkara FC 20 Agustus nanti di Bekasi,” tambahnya.

Pihaknya memang menetapkan sejumlah kriteria khusus kepada pelatih yang nantinya akan bergabung bersama tim kebanggaaan masyarakat Sumsel ini. “Yang pasti harus mampu menaikkan performa tim dan bisa beradaptasi dengan cepat nantinya,” tegasnya.

Saat ini sendiri, cukup banyak pelatih dengan lisensi A AFC yang tengah menganggur, mulai dari Djajang Nurdjaman, Jafri Sastra hingga Aji Santoso. Ketiganya menjadi korban dari keganasan kompetisi Liga 1 Indonesia 2017 sehingga harus mengundurkan diri dari klub asalnya masing-masing beberapa waktu lalu. (dedi)

Artikel Terkait