Palembang, adalah kota tertua di Indonesia, kota pempek ini berumur lebih dari seribu tahun. Kota yang terletak di selatan pulau Sumatera ini memiliki populasi lebih dari satu juta jiwa, yang menyebabkan kota ini menjadi padat dan “sibuk”, di kota yang tua inilah sebuah tim sepakbola yang “masih sangat muda” bermarkas. Ya, tepat sekali, tim yang saya maksud adalah Sriwijaya FC, tim sepakbola kebanggaan wong Palembang dan kebanggan masyarakat Sumatera Selatan, wajar tim ini saya sebut masih “masih sangat muda” tahun ini tepatnya 23 oktober 2015, Sriwijaya FC baru berusia 11 tahun. Masih sangat muda untuk ukuran sebuah tim sepakbola, bandingkan dengan PSM Makassar yang berdiri tahun 1915 (tahun ini berusia 100 tahun) atau PSIM Yogyakarta yang berdiri tahun 1929 (berusia 85 tahun) tapi di usia yang masih belia ini bukan berarti Sriwijaya FC tidak memiliki prestasi, sederet prestasi membanggakan telah diukir tim berjuluk “laskar wong kito” bahkan tim ini mencetak rekor yang belum bisa disamai oleh tim manapun di negeri ini. Rekor yang saya maksud adalah Double Winner di tahun 2007, dan juara Copa Indonesia 3x berturut turut 2007,2008,2009. Luarbisa bukan?. Itulah yang membuat saya sangat bangga sebagai wong Palembang dan sebagai Pendukung setia Sriwijaya FC.

Jika bicara tentang SFC, Saya kembali teringat pertama kali saya menonton pertandingan pertama saya, kala itu saya masih duduk di kelas 4 SD, pertandingan SFC yang pertama kali saya saksikan adalah pertandingan melawan PERSIB bandung, pertandingan yang terasa istimewa bagi saya, karena pada saat itu adalah saat dimana saya untuk pertama kalinya menonton pertandingan sepakbola langsung di stadion.Tidak hanya itu, pertandingan itu juga merupakan pertandingan pertama sebuah tim yang bernama Sriwijaya Football Club, tim yang kelak di masa yang akan datang adalah tim yang menjadi alasan saya untuk meninggalkan rutinitas sejenak dan menyisihkan waktu untuk pergi ke stadion hanya untuk bernyanyi, berteriak dan menonton dengan seksama pertandingan demi pertandingan yang dihadapi oleh tim ini. Kembali ke pertandingan SFC vs Persib, pada pertandingan itu saya masih ingat kalau tidak salah, SFC masih memakai kostum berwarna merah, bukan kuning, seperti sekarang ini.pertandingan yang berkesudahan dengan skor 1-1 itu sudah cukup untuk membuat saya merasa senang karena saya berkesmpatan hadir langsung di stadion Gelora Sriwijaya dan menjadi saksi hidup dari awal perjalan tim Sriwijaya FC.

Setelah pertandingan itu, saya selalu ingin hadir dalam setiap pertandingan kandang SFC, bahkan tidak jarang saya  menegluarkan jurus andalan, yaitu menangis di hadapan orangtua saya jika mereka menolak untuk membawa saya ke jakabaring. Pertandingan demi pertandingan pun sering saya saksikan baik langsung di Jakabaring, beberapa kali di stadion lain, ataupun melalui TV. Tapi diantara itu semua itu, saya paling suka menonton SFC langsung dijakabaring, karena saya merasa atmosphere di kandang sendiri akan terasa berbeda dengan menonton di kandang lawan, apalagi menonton di TV. Suara gemuruh drum, nyanyian yang tak henti hentinya di lantunkan oleh supporter SFC baik itu, Singa Mania ataupun Sriwijaya Mania, membuat saya merasa sangat senang dan bahagia.Terdengar berlebihan mungkin, tapi itulah yang memang saya rasakan ketika saya menonton langsung SFC di jakabaring, apalagi jika semua sudut stadion jakabaring dipenuhi pendukung SFC, kalau kata anak-anak jaman sekarang “feel nya tuh dapet banget”.

Tapi dibalik semua itu, saya kadang-kadang sedikit “dongkol” dengan fans SFC. Kedongkolan saya akan terjadi ketika saya menonton langsung di jakabaring, tetapi kondisi stadion tidak seperti yg saya harapkan, jumlah penonton yang hadir tidak terlalu banyak, bahkan sepi. Hal ini biasa terjadi di jakabaring ketika prestasi SFC sedang menurun, biasanya hanya sedikit fans SFC yang akan datang ke stadion jika pada musim tersebut performa SFC dianggap gagal memenuhi  harapan mereka, contohnya pada 2 musim belakangan ini jika saya menyaksikan pertandingan dari TV(karena saya sekarang kuliah di jogja) jumlah penonton di stadion jakabaring sangat sedikit, bahkan 2 tahun yang lalu ketika saya pulang ke Palembang, saya menyempatkan diri untuk hadir dan mendukung SFC, kala itu SFC menghadapi PBR di jakabaring, ketika saya masuk ke stadion, saya terkejut melihat suasana stadion yang sangat sepi, jumlah penonton yang hadir mungkin tidak sampai 5000an orang, bahkan kalo boleh jujur, suasana stadion waktu itu masih kalah meriah dengan suasana pasar malam yang ada di kampung-kampung. Hal inilah yang membuat satu pertanyaan besar terlintas di pikiran saya, “ngapolah men lagi saro dikit nian yang nak nonton sfc? beda men lagi juaro, penuh nian jakabaring sampe meluber luber“ seperti itulah pertanyaan yang terlintas di pikiran saya ketika melihat stadion jakabaring “sepi pengunjung”. Mungkinkah hal ini terjadi karena Sepakbola bukan merupakan kultur/ budaya wong Palembang?

Bicara tentang kultur/budaya sepakbola, jawaban dari pertanyaan saya diatas mungkin bisa benar, bahwa sepakbola bukan merupakan budaya wong Palembang, mungkin bisa salah, karena ini Cuma pendapat pribadi saya sebagai wong Palembang.  Tapi jika kita melihat daerah lain di Palembang yang memiliki “budaya sepakbola” lebih kuat dari Palembang  seperti Malang, Bandung, bahkan Jogja sekalipun. Bisa kita lihat, jika Arema malang bertanding, sudah  bisa dipastikan puluhan ribu Aremania akan mendukung mereka di setiap laga, tak peduli mereka sedang bagus atau tidak di musim itu. Ya, budaya sepakbola memang kental terasa jika kita berada di malang, bahkan ketika saya jalan-jalan kesana, tukang bakso disana yg sempat mengobrol  dengan saya, berkata “arek malang itu mas, terlahir untuk menjadi Aremania, sejak lahir kita semua orang malang sudah resmi jadi Aremania mas” begitu kata si tukang bakso, luar biasa bukan?  Teman kuliah saya yang berasal dari Malang pun mengatakan hal yang sama kepada saya, “kalo di Malang itu, arema itu udah kayak agama ke 2 buat orang Malang”  dalam hati saya Cuma bisa berkata “gilo nian wong malang ni” pun juga ketika kita membahas Bandung, bayangkan jika kita melihat pertandingan Persib dari layar kaca beberapa tahun belakangan sebelum mereka juara ISL kemarin, stadion selalu di padati oleh bobotoh walaupun selama 19 tahun Persib tidak pernah juara liga Indonesia/ ISL sekalipun. Begitujuga dengan Jogja, sekalipun PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta bermain di divisi utama, stadion selalu dipadati puluhan ribu supporter mereka. Berbeda dengan di Palembang, padahal jika kita melihat secara prestasi, dalam 11 tahun perjalan SFC, kurang lebih 10 trophy sudah diraih, tapi ketika bermain stadion GSJ, kondisi stadion kadang sepi kadang rame, tergantung pada performa SFC dimusim itu. Mungkinkah loyalitas masyarakat Palembang kepada SFC cuma secuil ?.

Tapi, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan wong Palembang  karena kurangnya dukungan pada SFC ketika sedang “jeblok”  toh juga tingkat loyalitas tidak bisa diukur dari seberapa sering supporter ke stadion, tidak datang ke stadion bukan berarti mereka akan berhenti menjadi supporter SFC. Mungkin mereka tidak datang ke stadion sebagai bentuk kritik terhadap penampilan SFC yang kurang bagus dan jauh dari ekspektasi.mungkin juga mereka punya alasan lain untuk tidak datang ke stadion, mulai dari jarak stadion yang jauh dari rumah, jalanan yg macet, atau pertanding SFC disiarkan di TV, tentunya mereka lebih memelilh menonton dirumah karena lebih irit biaya. Tapi Yang terpenting adalah masyarakat Palembang tetap mendukung SFC walaupun tidak secara langsung hadir di jakabaring, dan masyarakat Palembang tetap punya sense of belonging  pada Sriwijaya FC. karena banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendukung SFC, bahkan hanya melalui TV sekalipun.Walaupun dukungan yang diberikan oleh suporter menurun ketika SFC sedang “jeblok”, walaupun tingkat loyalitas orang Palembang/Sumatera Selatan dirasa masih kalah dibandingkan orang Malang, Bandung, Jogja dll, dan walaupun stadion GSJ tak seramai stadion lain di Indonesia, Sriwijaya tetaplah Sriwijaya. Akan selalu ada tempat untuk SFC, di hati para penggemarnya, Sriwijaya akan tetap menjadi tim kebanggan kita semua warga Sumatera Selatan. Bahkan jika saya boleh sedikit lebay, saya akan mengatakan “Sriwijaya FC adalah jiwa raga kami”.

Selamat ulang tahun yang ke 11 tim SFC ku, bangkitlah dan terbanglah setinggi angkasa, Elang Andalas!!!!

Penulis : Dwiga Satriawan (Majoring of Public Relations UMY)