YOGYAKARTA- Sebanyak 13 (tiga belas) perwakilan negara-negara Asia-Pasifik belajar minapadi di Indonesia. Ketiga belas negara tersebut yakni Bangladesh, Kamboja, China, India, Laos, Myanmar, Nepal, Pakistan, Philipina, Sri Langka, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.

Sebelumnya Indonesia telah ditetapkan oleh FAO (Badan Pangan Dunia) sebagai rujukan model pengembangan minapadi level Asia-Pasifik. Penunjukkan Indonesia, karena dinilai telah berhasil dalan mengembangkan minapadi sebagai program prioritas nasional untuk mendukung ketahanan pangan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam sambutannya pada acara Regional Workshop on Innovation Rice-fish and Climate Resilient Tilapia Farming di Yogyakarta (Selasa, 15/1), mengatakan bahwa kehadiran 40 delegasi dari 13 negara di Asia Pasifik menjadi nilai positif, bahwa Indonesia sangat diperhitungkan dalam memberikan kontribusi bagi upaya pemenuhan kebutuhan pangan global melalui inovasi pengembangan minapadi. Menurutnya minapadi sangat sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah disepakati negara negara di dunia. Tujuan tersebut yakni pengentasan kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan pangan.

“Kita tentu sangat bangga atas apresiasi dunia terhadap keberhasilan program minapadi nasional. Disisi lain, dalam konteks global, Indonesia menjadi model bagi solusi global bagaimana menopang ketahanan pangan ditengah penurunan kualitas dan perubahan iklim global”, jelas Slamet.

Sementara itu FAO Representatif for Asia Pasifik, Weimin Miao, mengatakan keberhasilan Indonesia dalam pengembangan minapadi yang melatarbelakangi FAO menjadikan Indonesia sebagai acuan konsep minapadi khususnya bagi negara-negara Asia Pasifik.

“FAO mengapresiasi komitmen Indonesia dalam mengembangkan minapadi ini, sehingga bisa jadi best practices bagi negara-negara lain”, ungkap Miao dalan ajang Regional Workshop tersebut.

Dihadapan para delegasi yang hadir, Slamet juga memaparkan bahwa Indonesia telah mampu mendongkrak rata-rata pendapatan masyarakat pembudidaya ikan secara nasional yakni dari tahun 2017 sebesar Rp.3,29 juta per bulan menjadi Rp. 3,38 juta per bulan di tahun 2018. Dimana menurutnya peningkatan pendapatan tersebut juga didongkrak oleh kegiatan usaha minapadi di berbagai daerah, serta kegiatan prioritas lainnya seperti program pakan mandiri, pengembangan budidaya ikan system bioflok, pengembangan induk dan benih unggul dan berkualitas, pengembagan teknologi recirculation aeration system serta kegiatan lainnya.

“Pada kesempatan ini saya juga berharap kepada delegasi yang hadir, nantinya setelah melihat secara langsung pelaksanaan minapadi di Indonesia, bisa secara langsung menyebarluaskan minapadi ke dunia internasional”, pungkas Slamet. Delegasi akan melihat langsung percontohan minapadi yang ada di Kabupaten Sukoharjo serta berdiskusi dengan petani yang langsung merasakan manfaat minapadi.

Stephen Rudgrad, Perwakilan FAO Indonesia, menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Indonesia atas pelaksanaan minapadi selama ini dan berharap agar minapadi ini menjadi salah satu strategi yang terus dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan pangan dunia.

Sebagaimana diketahui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga tahun 2018 telah mengembangkan percontohan minapadi seluas 580 ha yang tersebar di 26 Kabupaten di Indonesia. Tahun 2019, KKP akan menargetkan penambahan luas lahan minapadi seluas 400 ha. Disamping itu, KKP juga menggandeng Kementerian Pertanian untuk menjadikan minapadi sebagai program prioritas. (Red/riil)

RelatedPost