Laskarwongkito.com — Palembang merupakan kota tertua dan mengalami dua masa peradaban besar, yakni Kerajaan Sriwijaya dan Palembang Darussalam.

Wajar, jika kemudian, Palembang memiliki kebudayaan yang sangat beragam mulai dari seni tari, pakaian, seni kerajinan dan kuliner. Namun seiring perkembangan zaman, budaya yang melekat pada Palembang kini mulai terkikis budaya modern.

Nah, mantemans, untuk mengingatkan kembali, tim LWK telah mengumpulkan lima budaya/kebiasan wong palembang yang hampir punah. Apa saja itu? Yuk cekidot..

1. Wayang Palembang

23714-0-wayang-kulit-palembang

(Sumber foto: assets.kidnesia.com)

Wayang Palembang memiliki bentuk fisik dan sumber cerita yang sama dengan wayang purwa dari Jawa. Bedanya, wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, dan perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas. Sementara wayang purwa menggunakan bahasa Jawa dan perwatakan tokohnya ketat dengan pakem-pakem klasik.

Selain itu, dari segi durasi penampilan, Wayang Palembang berbeda, karena mentas hanya 1-3 jam, sementara wayang Jawa bisa semalam suntuk.

Seni Wayang Palembang, diperkirakan tumbuh sejak pertengahan abad ke-19 Masehi, saat Arya Damar yang terpengaruh budaya Jawa berkuasa di daerah Palembang. Wayang itu kemudian terus tumbuh dengan karakter lokal sehingga menjadi khas Palembang.

Dikenal beberapa tokoh Pewayangan Palembang ini di antaranya adalah almarhum Ki Agus Rusdi Rasyid. Ia disebut sebagai dalang terakhir karena menguasai permainan wayang kulit Palembang. Adapun dalang-dalang lain seperti Syekh Hanan dan Ki Agus Umar, juga sudah meninggal, maka R Dalyono menunjuk Agus Wirawan, anak tertua Ki Agus Rusdi Rosyid, cucu Ki Agus Rosyid, sebagai ahli waris, sekaligus sebagai ‘penyelamat’ kesenian tradisional wayang kulit Palembang.

Akhirnya pada tahun 1985 disetujui dan sebanyak 20 tokoh wayang berhasil di buat. Lagi-lagi wayang kulit Palembang mengalami nasib tragis, karena seluruh wayang hasil duplikat habis terbakar pada tahun 1986 atau setahun setelah wayang itu diduplikat.

Penderitaan wayang kulit Palembang ini makin lengkap setelah beberapa alat-alat pengrawitnya juga kececeran entah ke mana. Ditambah lagi para pengrawitnya juga tidak jelas tinggal di mana.

Salah satu lokasi Kesenian tradisional Wayang Palembang berada di Sanggar Sri Wayang Palembang, pimpinan Agus Amiruddin, di Jl PSI Lautan, RT 10, 16 Ceklatah, 36 Ilir. Sanggar itu sudah menjadi binaan UNESCO satu-satunya di Palembang.

2. Dul Muluk

dul_muluk2

(Sumber foto: lemabang.files.wordpress.com)

Dul muluk adalah teater tradisional yang berkembang di Sumatera Selatan. Konon, seni pertunjukan ini bermula dari syair Raja Ali Haji, sastrawan yang pernah bermukim di Riau. Nah, karya sang raja ini terkenal dan menyebar hingga Palembang.

Dalam dul muluk terdapat lakon, syair, lagu-lagu Melayu, dan lawakan. Adapun bentuk pementasan dul muluk serupa dengan lenong dari masyarakat Betawi di Jakarta. Akting di panggung dibawakan secara spontan dan menghibur.

Penonton pun bisa membalas percakapan di atas panggung. Bedanya sudah pasti di bahasa yang digunakan. Kalau lenong menggunakan bahasa Betawi, dul muluk menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Palembang.

Dul muluk biasanya dipentaskan setiap ada pesta pernikahan. Kadang kala dul muluk bisa diadakan semalam suntuk. Meski sempat kehilangan pamor, dun muluk kini kembali dilestarikan oleh generasi muda melalui pementasan di sekolah-sekolah. Baca jugahttp://www.laskarwongkito.com/inilah-kisah-awal-munculnya-teater-dul-muluk/

3. Napak (ngiring) Penganten

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(Sumber foto: ikeseptiyastari.files.wordpress.com)

Acara ini menjadi simbol pengantin wanita menerima pribadi sang suami. Saat iring-iringan rombongan keluarga pengantin pria tiba di rumah pengantin wanita maka akan disambut ibu sang pengantin wanita. Hadir juga para sesepuh perempuan yang sudah siap membawa semangkok kecil beras tabur dicampur receh. Nantinya beras ini akan ditaburkan kepada pengantin pria serta rombongannya.

Pada acara ini pun akan terdapat hiasan perahu dengan ornamen indah, lampu warna-warni, alat musik tabuh-tabuhan, keris pusaka, nampan serta kain sutera emas.

4. Anten-anten Nunggu Buko

ngabuburit-di-perancis_20150629_154147

(Sumber foto: cdn2.tstatic.net)

Jika selama ini, anak muda di tanah air lebih akrab dengan istilah ngabuburit, untuk menyebut aktivitas muda-mudi di bulan Ramadhan dalam menunggu waktu berbuka puasa. Biasanya, dilakukan di taman kota, alun-alun atau ruang terbuka lainnya.

Nah kalau di Palembang sendiri ada istilah yang dinamakan dengan Anten-Anten Nunggu Buko. Belum diketahui dengan pasti, sejarah dan asal-usulnya, namun yang pasti nama ini kemudian menjadi nama program acara televisi swasta lokal selama bulan suci Ramadhan.

Dalam aktivitas ini, tetap melibatkan anank-anak muda yang biasanya berkumpul di seputaran Jembatan Ampera – baik Hulu maupun Ilir, di sore hari menjelang berbuka.

Mereka biasanya datang berombongan, baik dengan teman maupun saudara. Saat itu, meski berkumpul sesama muda-mudi, tetapi tidak ‘sebebas’ para remaja sekarang. Mereka lebih memilih tetap menjaga jarak antara laki-laki dan perempuannya.

Sementara saat ini, justru sungguh memprihatinkan. Mereka lebih banyak duduk berduaan di atas jok motor atau di tempat-tempat lesehan lainnya. Padahal mereka sama-sama puasa. Duh, bagaimana dengan pahala puasanya ya?

5. Pitutur Bahaso Palembang Asli

terbangans

(Sumber foto: bp.blogspot.com)

Bahasa Palembang mempunyai dua tingkatan, yaitu Baso Pelembang alus atau bebaso dan Baso Pelembang sari-sari. Baso Pelembang alus dipergunakan dalam percakapan dengan pemuka masyarakat, orang-orang tua, atau orang-orang yang dihormati, terutama dalam upacara adat.

Bahasa ini mempunyai kemiripan dengan bahasa Jawa karena adanya hubungan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam dengan kerajaan di pulau Jawa. Itulah sebabnya perbendaharaan kata Baso Pelembang Alus banyak persamaannya dengan perbendaharaan kata dalam bahasa Jawa.

Sayangnya, saat ini hampir sudah tidak ada lagi yang mengetahui baso Palembang Asli ini apalagi yang menggunakannya.

Nah fren, itulah lima budaya atau kebiasaan wong Plembang yang semakin hari semakin sedikit mengenalnya. Sayang sekali ya, padahal budaya asli adalah cermin identitas kita. (red/dil)

RelatedPost