Palembang, Laskarwongkito.com-Resmi dibuka 5 juli lalu, bursa transfer kompetisi Liga 1 Indonesia  2018  tampaknya benar-benar dimanfaatkan oleh sejumlah klub tanah air. Hal ini pula menjadikan Sriwijaya FC menjadi salah satu tim yang menjadi buruan di bursa transfer dikarenakan banyaknya pemain berkualitas di dalamnya.

Salah satunya duet di jantung pertahanan SFC yakni kapten tim Hamka Hamzah dan Mohamadou Ndiaye yang tidak hanya piawai melindungi gawang Teja Paku Alam, namun juga cukup produktif untuk urusan mencetak gol. Keduanya bahkan sama-sama telah menyumbangkan 4 gol, sebuah catatan yang cukup impresif untuk pemain yang berposisi bek.

Kemudian juga Makan Konate, pemain asal Mali yang saat ini memimpin di peringkat pertama untuk urusan assist. Meski tidak masuk dalam rumor daftar pemain yang akan hengkang dari SFC belakangan ini, namun performa Ndiaye dan Konate pasti akan menarik minat klub di bursa transfer kali ini.

Selain itu, penampilan duo naturalisasi SFC yakni Alberto Goncalves dan Esteban Viscarra juga cukup meyakinkan dengan sama-sama memborong 6 gol sekaligus menjadi top skor sementara klub kebanggaan masyarakat Sumsel ini. Namun keinginan klub lain untuk memborong kedua pemain ini memang akan sedikit lebih susah karena secara tersirat baik Beto maupun Viscarra masih menyatakan kesetiannya kepada SFC. Hal ini cukup wajar mengingat selama ini peran manajer SFC Ucok Hidayat cukup besar dalam proses naturalisasi keduanya di awal tahun ini.

Arie Firdaus, suporter SFC dari komunitas Sriwijaya Boys sendiri mengaku situasi ini memang bak simalakama bagi manajemen PT SOM. Bahkan dirinya menyebut apapun keputusan yang akan diambil nantinya pasti tidak akan mampu memuaskan banyak pihak. “Ini situasi pelik dan rumit, jika melihat kontribusi nama-nama yang dirumorkan hengkang, pasti tidak ada alasan untuk melepas pemain-pemain pilar tersebut. Namun ini sepakbola profesional, ketimbang terus memaksakan diri memang lebih baik mengambil opsi rasionalisasi gaji untuk menekan keuangan klub. Semua suporter pasti menginginkan klubnya berprestasi, namun keterlambatan gaji merupakan sesuatu yang tidak bisa dianggap enteng, jadi jika memang melepaskan pemain pilar dapat membantu, maka sah-saja kebijakan itu diambil dan sebenarnya ini bukan hal baru karena banyak klub luar yang juga melakukannya,” ujarnya saat dihubungi Rabu (11/7) malam.

Dirinya pun berharap kejadian seperti ini juga menjadi pelajaran berharga bagi siapapun pengelola SFC kedepannya. “Ini bukan kejadian pertama dan selalu berulang di saat tahun politik. Tentu kita berharap ini adalah yang terakhir, bisa menjalankan klub dengan sehat kami juga pikir sebuah prestasi. Namun kami juga berharap bahwa langkah evaluasi yang dilakukan nantinya memang sebuah tindakan penyelamatan dan telah dipikirkan dengan matang, tidak ada salahnya untuk mengakui sebuah kesalahan dan memulai memperbaikinya dari bawah kembali,” pesannya.

Berita tentang keterlambatan gaji memang cukup menarik perhatian dan saat laga kontra Persija (10/7) kemarin, kelompok suporter Singa Mania di tribun utara stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring membentangkan spanduk dengan tulisan “Ada Apa Dengan Sriwijayaku” dengan disertai lambang uang sebagai bentuk keprihatinan. Manajemen SFC sendiri melalui Direktur PT SOM Muddai Madang menyebut bahwa hasil evaluasi akan dilaksanakan seusai laga kontra Persija sehingga tidak akan menganggu persiapan tim di laga lanjutan SFC melawan Mitra Kukar, Selasa (17/7) mendatang. (win)

Artikel Terkait