PALEMBANG — Operasi pasar (OP) daging yang dilakukan Bulog belum mampu menekan turunnya harga daging sapi pada pasar tradisional di Sumatera Selatan (Sumsel). Harga daging lokal pada beberapa pasar di daerah ini masih bertahan pada kisaran harga Rp120.000 – Rp130.000/ kilogram (kg).
Harga daging sapi lokal yang tak kunjung menurun tersebut menurut Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Sumsel Amruzi Minha, karena masih minimnya minat masyarakat terhadap daging beku yang dijual di OP daging sejak awal Ramadhan.
“Masih kurangnya minat masyarakat terhadap daging beku menjadi kendala tersendiri terhadap penyeimbangan harga daging lokal di pasar. Minimnya  minat masyarakat untuk mengonsumsi daging beku yang diimpor pemerintah dengan berbagai alasan,” kata Amruzi Minha, Jumat (24/6).
Amruzi Minha menjelaskan, harga dagi lokal di Sumsel sudah melonjak sejak awal bulan Ramadhan harga daging sapi di Sumatera Selatan melonjak  hingga kisaran Rp130.000/ kg.
Meski sudah ada OP daging dan Bulog telah mengelontorkan 9,5 ton daging beku dengan  Rp85.000/ kg di Sumsel melalui pasar murah dan bazar murah, harga daging lokal di pasaran tak kunjung  turun.
Sulitnya menurunkan harga daging lokal di pasar penyebab lainnya menurut Amruzi Minha karena panjangnya rantai distribusi serta tingginya permintaan daging segar yang masih diminati oleh masyarakat.
“Padahal daging secara kesehatan lebih baik dikonsumsi setelah melalui proses pembekuan. Daging yang bagus itu bukan daging segar. Daging itu harus ditiriskan dulu satu atau dua malam untuk mengeluarkan darahnya lalu dibekukan. Secara kualitas dagingnya akan lebih bagus. Tapi kan orang kita inginnya begitu disembelih langsung dimasak,” ujarnya.
Ke depan menurut Kadisnak Sumsel, masyarakat diimbau mulai beralih untuk mengonsumsi daging beku yang secara kualitas lebih baik, di samping harga jual yang diberikan pemerintah juga jauh lebih murah dari harga pasaran. (juniara)

RelatedPost