PALEMBANG – Lomba desain jersey Sriwijaya FC musim 2017 sejak dibuka awal Juni 2016 diminati banyak peserta. Peserta lomba tidak hanya berasal dari beberapa daerah di Indonesia tapi ada juga peserta dari luar negeri yang mengirimkan karya desainnya.
“Sampai hari ini sudah lebih dari 100 peserta mengirimkan karyanya ke manajemen Sriwijaya dan sudah lebih 50 desain yang mulai kita seleksi. Pesertanya bukan hanya dari Indonesia, ada juga yang dari Singapura, Malaysia hingga Qatar. Kebanyakan mereka adalah pecinta sepakbola nasional secara umum dan Sriwijaya FC khususnya,” kata Nirmala Dewi Direktur Marketing dan Promosi PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) – perusahaan pengelola Sriwijaya FC – Rabu (22/6).
Lomba desain jersey kali ini manajemen Sriwijaya FC menyediakan hadiang uang sebesar Rp10 juta untuk satu pemenang.
Nirmala Dewi menilai, desain karya yang masuk sudah ada beberapa desain terbaik dan manajemen masih bingung menentukan pilihan. “Semuanya bagus, jujur kami bingung menentukan yang mana akan digunakan tim nanti dan konsep yang mereka tawarkan juga semuanya keren,” ujarnya.
Masa pendaftaran desain jersey Sriwijaya FC akan segera berakhir karena manajemen membatasi sampai akhir Juni 2016. Mengingat jumlah oeserta yang banyak, manajemen Sriwijaya tidak akan memperpanjang batas waktu.  “Untuk pengumuman pemenang belum ditetntukan, tetapi batas pengiriman akhir bulan ini,” katanya.
Pada 2017, klub berjuluk Laskar Wong Kito tidak lagi bekerja sama dengan Joma appareal yang sudah mensupport tim selama tiga musim terakhir. Ke depan klub yang bermarkas di stadion Gelora Sriwijaya ini akan digandeng perusahaan apparel baru yang sekarang menuntut desain jersey tim disetorkan secepatnya sebelum kompetisi kembali dimulai.
Menurut Direktur Marketing dan Promosi PT SOM, “Sekarang kami belum bisa memberi tahu apparel mana yang akan men-support Sriwijaya FC pada 2017. Namun yang pasti manajemen menginginkan perubahan sesuai dengan karakter tim Sriwijaya FC sebagai klub besar di Indonesia yang punya sejarah panjang dan prestasi. Dalam kotum nantinya, kami akan mengedepankan kearifan lokal dan ciri khas Sumsel.” (dedi)

RelatedPost