Laskarwongkito.com — Pembuatan Karya Ilmiah Tugas Akhir, Skripsi, Tesis atau Disertasi biasanya jadi masa-masa paling sulit dalam kuliah. Banyak waktu, tenaga, pikiran dan dana yang dikeluarkan. Bahkan hal yang tadinya sering dilakukan menjadi jarang, yang tidak terfikirkan menjadi kegiatan rutin. Berikut tim LWK kumpulkan lima kebiasaan yang sering dilakukan mahasiswa tingkat akhir.

1. Mulai jarang bertemu dengan teman seangkatan di kampus

Boy in classroom at school

(Sumber foto: i1.wp.com)

Jika di awal perkuliahan saat menjadi MABA (Mahasiswa Baru) kamu dapat dengan mudah bertemu teman seangkatan, baik di kelas, kantin atau di perpustakaan, maka hal sebaliknya akan kamu rasakan saat menginjak semester tua.

Teman seangkatan mulai jarang terlihat di kampus. Bisa dipastikan, kalian akan jarang berjumpa karena tidak lagi sekelas. Bagi mahasiswa cerdas berlabel “Cumlaude” biasanya mereka telah menghabiskan jumlah SKS mata kuliah dan saat ini tinggal mengambil skripsi.

Lantas bagaimana dengan mahasiswa lainnya? Mereka bisa dibilang tipe penyayang dan awet muda. Mengapa dianggap penyayang? Saking sayangnya dengan dosen mata kuliah tersebut, mereka rela mengulang mata kuliah tersebut untuk kedua bahkan ketiga kalinya untuk mendapat nilai persis plat kendaraan Jogja yaitu AB.

Lantas mengapa mereka awet muda? Gimana nggak awet muda, setiap hari mereka kuliah dan bergaul bareng mahasiswa angkatan di bawahnya. Syukur-syukur bisa disegani atau bahkan dikira Asdos lagi masuk kelas.

2. Mulai gencar mencari part time

Waitress serving coffee

(Sumber foto: media.istockphoto.com)

“Sambil menyelam minum air” adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan mahasiswa yang selain aktif kuliah, juga aktif bekerja paruh waktu. Mahasiswa tipe ini bisa dibilang mahasiswa yang tidak cocok dijadikan pacar namun cocok dijadikan pendamping hidup.

Mengapa kurang cocok dijadikan pacar? Mereka adalah tipe pekerja keras yang sangat menghargai waktu. Tidak ada dalam kamus hidup mereka membuang-buang waktu dan uang hanya umtuk hal-hal yang dirasa kurang bermanfaat. So, jangan sedih ya kalau kamu sebagai pacar sering dicuekin.

Walaupun mereka bukan pacar yang bisa “selalu ada setiap waktu” kayak jargo iklan deodoran, mereka adalah tipe pasangan yang layak dipertahankan. Mereka bukan mahasiswa yang hanya bergantung pada kekayaan orang tua. Mereka telah terdidik mandiri, tekun dan tidak gengsi demi mengais rejeki.

Terlebih lagi, mereka adalah pasangan yang bisa diandalkan untuk berjuang bersama. So, kamu gak perlu ragu apakah kelak pasangan kamu ini mau diajak susah senang bersama.

Tapi kamu sebagai pasangan pun harus ingat bahwasanya “Perempuan yang baik mau diajak susah, tapi pria yang baik tidak akan tega membiarkan perempuannya susah.”

3. Mulai giat mencari dosen pembimbing

Teacher-Student-InGenius-Prep.jpg.pagespeed.ce_.xdxeDZ3V5G-750x483

(Sumber foto: tango.image-static.hipwee.com)

“Datang tak dijemput pulang tak diantar” adalah pepatah yang pas untuk mewakili perasaan mahasiswa ke dosen pembimbingnya yang sulit ditemui. Kesibukan sebagai tokoh penting membuat dosen tidak selalu ada di ruangan kantornya setiap hari.

Bahkan ada tipe dosen yang sering melalang buana dari satu kota ke kota lainnya untuk menghadiri berbagai event atau proyek. Mulai saat itu, kamu akan merasakan susahnya nyari dosen beda tipis sama susahnya nyari jodoh. Kalau kamu yang jomblo bisa menjawab “Jodoh di tangan Allah”, kalau acc skripsi? Ya jelas di tangan dosen.

Tidak jarang kamu akan dikecewakan oleh dosen pembimbing. Sama halnya gebetan yang sering memberi harapan dan janji palsu, di PHP dosen juga gak kalah sakit loh bro!

Besok paginya jam 09.45 kamu sudah berkemeja rapi duduk cantik membawa tumpukan revisi di depan kantornya. Setengah jam, satu jam, dua jam berlalu dan dosen belum juga muncul. Dalam hati berusaha berprasangka baik “Mungkin dosennya baru on the way di jalan kejebak iring-iringan pengantin Chelsea Olivia atau mungkin bannya bocor terus harus nambal ke Bekasi?” Well, kamu pun memberanikan diri sms si dosen sebelum kamu lumutan kelamaan nungguin beliau di depan ruangan.

4. Mulai giat mencari pendamping wisuda

hipwee-pendamping-wisuda-370x297

(Sumber foto: warbiyasak.com)

“Bagai sayur tanpa garam” adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan momen wisuda tanpa adanya seorang pendamping. Kamu yang masih menyandang status jomblo akan mulai menebar pesona demi cepat mendapat pasangan. Ada yang mulai “mbribik” (dalam bahasa Jawa berarti mengincar) mahasiswa angkatan baru. Ada juga yang menghubungi kembali mantan-mantan gebetan yang masih available.

Sebaliknya bagi mahasiswa putri, mereka lebih tertarik pada pasangan yang sudah bekerja alias mapan. Seperti semboyan “Ijazah lanjut Ijabsah”, banyak mahasiswi yang tidak lama setelah wisuda langsung dilamar, tunangan, bahkan menikah. Untuk yang pria, gelar mahasiswa angkatan tua yang sedang giat berjuang untuk lulus, dapat memanfaatkan momen ini untuk mendekatkan diri dengan calon mertua.

5. Beberapa dari mereka memanfaatkan waktu luang untuk travelling

06.jpg.e3c959c1a6467c1558c2e4dda13dfc2d

(Sumber foto: hotel.jalan2.com)

Waktu menjadi maba kamu jarang liburan dan pulang kampung karena padatnya jadwal kuliah dan praktikum. Namun saat sudah menjadi angkatan tua, kamu bisa memanfaatkan waktu luang untuk travelling. Ibarat menebus kesalahan masa lalu yang kurang hiburan dan liburan, kamu bisa menjelajah dari satu tempat wisata ke wisata lainnya.

Pantai, gunung, dan wahana lain adalah alternatif yang dapat kamu pilih. Kamu nggak perlu lagi ke Gunung Rinjani sambil bawa laporan praktikum untuk dicicil dikerjakan saat udah sampai puncak. Kamu juga gak perlu bawa makalah presentasi buat ke Pantai Sundak untuk dipelajari karena besok maju presentasi.

Anak Fakultas Kedokteran pergi ke pantai, besoknya dapat inspirasi judul skripsi “Adaptasi Tubuh Manusia terhadap Suhu Ekstrim di Kawasan Pesisir Pantai Depok.”

Anak Fakultas Psikologi mendaki gunung, tiba-tiba dapat inspirasi judul skripsi “Analisis Hubungan Tingkat Emosional Seseorang dengan Kebiasaan Mendaki Gunung”

Juga bisa buat kamu awet muda. Kalau kata Om Ridwan Kamil sih,“Orang mudah marah itu alasannya dua, kalau gak kurang piknik ya kurang selfie.”

Memang asyik, tapi skripsi harus tetap jalan ya Bro! So, why not? Liburan yuk, dunia tak sesempit layar gadgetmu! Dunia juga gak setipis lembar kertas revisian skripsimu! (red/dil)

RelatedPost