Meski tidak terlalu populer seperti nama lainnya di Sriwijaya FC, namun sosok Zulfiandi belakangan menjelma menjadi pemain penting di skema permainan yang dikembangkan oleh kepala pelatih laskar wong kito Rahmad Darmawan. Perannya sebagai jangkar di lini tengah seolah tidak tergantikan.
Sejak didatangkan awal musim ini, pemain asal Aceh ini nyaris selalu menjadi pilihan pertama dan baru absen jika mendapat panggilan timnas Indonesia. Pemanggilan dirinya ke timnas juga semakin menguatkan bahwa Zulfiandi sejauh ini telah berhasil keluar dari masa-masa suramnya di musim lalu.
Saat ditanya mengenai hal ini, Zulfiandi tidak menampik bahwa musim lalu dirinya sempat merasa frustasi saat masih memperkuat Bhayangkara FC. “Musim lalu saya sempat absen cukup lama karena cedera lutut kiri sehingga praktis hanya bermain di 2 pertandingan saja, sebagai seorang pesepakbola itu tentu sebuah situasi yang sangat sulit,” ujarnya saat dihubungi Jumat (25/5) siang.
Oleh karena itu, saat memutuskan pindah ke SFC di awal musim ini, Zulfiandi bertekad untuk mengembalikan permainannya seperti dulu lagi. “Saya sangat bersyukur diberi kepercayaan oleh coach RD, hal itu memang sangat dibutuhkan oleh seorang pemain. Itu juga yang menjadi alasan saya menerima tawaran SFC kemarin, permainan saya sekarang alhamdullilah sudah sedikit membaik, tetapi masih harus banyak belajar lagi kedepannya,” bebernya.
Selain itu, pengidola Sergio Busquets ini menyatakan punya alasan lain yang membuatnya sangat termotivasi bangkit dari situasi tersebut. Vonis bahwa kariernya sudah habis yang disampaikann salah satu pelatih di tanah air disebutnya sangat membuatnya termotivasi untuk membuktikan bahwa hal itu salah.
“Beliau membandingkan saya dengan Ismed Sofyan dan mengatakan bahwa karier saya tidak akan berkembang lagi pasca cedera dan menikah muda, hal itu sangat mencambuk hati saya,” ungkapnya seraya enggan menyebutkan identitas sang pelatih.
Keluarga sendiri diakui Zulfiandi merupakan faktor utama yang membuatnya mampu melewati semua cobaan tersebut dengan baik. Sang istri, Oka Patra Dina dan putrinya baru berusia 1 tahun, Maryam bahkan sudah diboyongnya ke Palembang.
Terkait anggapan bahwa dirinya merupakan sosok yang religius, Zul juga membantah hal ini dan enggan terlalu dibesar-besarkan. “Bukan karena saya orang Aceh atau gimana, tapi saya beserta istri memang senang mengikuti kajian atau ceramah keagamaan, semua itu membuat saya semakin percaya bahwa dunia hanya sementara, akhirat yang kekal nantinya,” pungkasnya.

Artikel Terkait