PALEMBANG  — Rangkaian sosialisasi perubahan iklim dan langkah tindak lanjut Pasca COP-21 di Paris yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Jumat (24/6) berlangsung di Palembang.
Sosialisasi di Palembang dihadiri  Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian LHK Thahir Fathoni bersama staf khusus Menteri LHK Agus Pambagio tersebut dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Mukti Sulaiman.
Menurut Thahir Fathoni di depan perserta dari berbagai perwakilan stake holder dan pemerintah kabupaten dan kota di Sumsel, kegiatan sosialisasi terkait kontribusi Indonesia dalam penurunan emisi gas rumah kaca pada tahun 2020 hingga 2030 mendatang, serta peran penting pemerintah daerah dalam mendukung program tersebut.
e34f175e-ad85-486e-b5cd-6330987f8761
“Paris Agreement merupakan bentuk kesepakatan global baru untuk penanganan perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global. Kalau kenaikan suhu udara mencapai dua derajat dan kenaikan permukaan air laut dua meter terutama di pulau-pulau kecil maka menjadi bencana bagi umat dunia, sebagai contoh Pulau Bali akan terputus antara bagian selatan dan utara kalau permukaan air laut naik,” katanya.
Untuk mengantisipasi hal itu menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, pemerintah bersinergi dengan berbagai pihak terkait, terutama pemerintah daerah untuk komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen serta bisa mencapai 40 persen jika ada bantuan internasional dalam bentuk kerjasama. “Kerjasama bisa meliputi teknologi transfer, pengembangan kapasitas, bantuan teknis serta pendanaan,” ujarnya.
Sementara itu Sekretaris Daerah Sumatera Selatan Mukti Sulaiman menjelaskan, “Dampak pemanasan global sangat mengerikan seperti pulau tenggelam. Untungnya di Sumsel pulau-pulau kecil tidak terlalu banyak, tetapi tidak sama dengan Bangka Belitung yang paling banyak pulau, itu bisa terancam terendam karena setiap tahunnya permukaan bumi ini menurun. Kita harus menjaga keselamatan umat dalam jangka panjang.”
Menurut Mukti Sulaiman, sosialisasi ini sangat penting bagaimana tindak lanjut kita sampai ke tingkat kecamatan dan pedesaan?  “Bila perlu digalakkan memberikan pengetahuan tentang pemanasan global sehingga masyarakat menjaga lingkungannya. Di masyarakat kita masih ada membuka lahan dengan cara membakar karena menganggap biaya murah dan lebih cepat, sehingga menjadi polusi,” urainya.
Mukti Sulaiman memperingatkan, jika lingkungan ini tidak dikelola dengan baik maka terjadinya kenaikan permukaan air, maka akan kacau seperti saat ini ada kemarau basah, kalau lingkungan rusak akan berdampak pada kesehatan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi kali ini, Sekda Sumsel memperingatkan, bagaimana implementasi di daerah dan pemerintah daerah harus mensosialisasikan kepada stake holder, termasuk masyarakat di desa. “Harapannya seluruh daerah kabupaten dan kota mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menjaga ekosistem itu sangat penting, memberikan pemahaman arti penting mempertahankan ekosistem,” pesannya. (juniara).

RelatedPost