PALEMBANG — Teka teki mengenai pengganti Keith Kayamba Gumbs di sektor pelatih fisik Sriwijaya FC akhirnya terkuak. Manajemen laskar wong kito akhirnya memutuskan menerima lamaran Irwansyah dan resmi bergabung bersama SFC untuk mengarungi musim 2017 ini.
Bahkan Irwansyah yang terakhir menangani Mitra Kukar sudah berada di Palembang sejak Sabtu (21/1) kemarin. “Beliau sudah ikut sesi latihan sore Sabtu (21/1) kemarin dan kita berharap kehadirannya dapat meningkatkan performa SFC kedepannya,” ungkap sekretaris tim, Ahmad Haris saat dikonfirmasi Minggu (22/1).
Sementara itu, Irwansyah sendiri mengaku sangat senang bisa bergabung sebagai staf pelatih SFC musim ini. “Saat break kompetisi lalu saya memang memasukkan lamaran ke manajemen dan minggu lalu mulai bernegosiasi,” ujarnya saat ditemui di Wisma Atlet Palembang, Minggu (22/1).
Menurutnya, faktor nama besar tim kebanggaaan masyarakat Sumsel ini menjadi alasan mengapa dirinya tertarik bergabung ke SFC. “Rasanya semua tahu bahwa SFC punya sejarah yang cukup baik dengan banyaknya gelar selama ini, tentu saya tertantang ingin mengukir sejarah saya sendiri kedepannya,” jelas pria berkacamata ini.
Terkait programnya kedepan, Irwansyah menyebut akan segera berkoordinasi dengan tim pelatih lainnya guna meningkatkan kebugaran dan fisik Teja Paku Alam cs. “Hari Senin (23/1) kita akan lakukan tes fisik awal yakni Yoyo Test kepada seluruh pemain, tentu harus disesuaikan juga dengan program pelatih kepala,” ungkap Irwan yang juga pernah membesut Semen Padang dan Persipura ini.
Saat ditanya mengenai kondisi fisik para pemain, Irwan juga enggan berkomentar lebih jauh dan baru akan melihatnya usai hasil tes nanti. Namun dirinya sudah mengetahui bahwa di musim lalu, 2 pemain senior yakni Beto Goncalves dan TA Mushafry menempati urutan tertinggi.
“Ini menjadi tantangan sendiri bagi saya untuk meningkatkan nilai VO2max pemain lainnya. Karena salah satu letak kelemahan para pesepakbola Indonesia adalah stamina yang tidak cukup untuk menjalani 90 menit pertandingan dengan tenaga prima,” bebernya.
Terkait pola test sendiri, Irwan mengaku memang akan menggunakan Yoyo test ketimbang beep test yang sudah sering dipakai pelatih sebelumnya.
Pada dasarnya Yo-Yo Intermittent Recovery Test adalah cara untuk mengukur kemampuan tubuh pesepakbola dalam melakukan lari yang berulang-ulang diselingi oleh istirahat secara mengulangi selang berjalan dalam jangka waktu yang lama. Perbedaan antara tes ini dengan tes klasik Bleep Test adalah bukan hanya lari terus menerus dalam jarak yang ditentukan, kita mendapatkan jeda singkat antara setiap set balikan maka tes ini ┬ádisebut ‘Yo-Yo test’.
“Sebenarnya hampir sama, namun Yoyo test lebih tepat bagi pesepakbola profesional,” pungkasnya. (Dedi)

RelatedPost