Laskarwongkito.com – Selain kekayaan kuliner, Palembang juga diwarisi oleh banyak kebudayaan yang unik. Salah satunya adalah kesenian tradisional Dulmuluk. Meski saat ini, kesenian rakyat tersebut sudah tak lagi populer, namun tak sedikitpun melunturkan semangat para seniman tradisional Dulmuluk Palembang. Lebih lagi, masih ada para generasi muda Palembang yang terpanggil untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian yang amat berharga ini.

Selain kesenian ini amat menghibur dengan kekocakannya, kesenian Tradisional Dulmuluk saat ini juga digunakan sebagai sarana penyampaian pesan, penyuluhan, informasi, bahkan nasihat yang tentunya amat berguna sebagai pengembangan pengetahuan bagi yang menyaksikannya.

Biasanya, pertunjukan Dulmuluk ditampilkan pada panggung pernikahan, acara sedekahan, khitanan warga dan lain-lain. Dan yang pastinya, Dulmuluk mulai mendapat perhatian luas saat muncul di layar kaca televisi TVRI Sumsel ataupun TV swasta lokal Palembang.

pentas-kesenian-panggung-bangsawan-teather-dul-muluk-dulmuluk-drama-khas-palembang-sumatera-selatan

(Sumber foto: haluansumatera.com)

Kita sebagai masyarakat kota Palembang patut bangga dengan kesenian warisan leluhur kita yang satu ini, dan harus di jaga jangan sampai hilang.

Menurut Sejarah dan latar belakangnya sendiri, Teater dulmuluk adalah teater daerah Sumatra Selatan yang lahir dan diciptakan di Kotamadya Palembang. Terbentuknya teater ini melalui tahapan yang panjang yang dimulai dari proses yang paling awal sejak pembacaan syair atau tutur, hingga menjadi teater utuh seperti sekarang ini.

Kata Dulmuluk sendiri berasal dari nama pemeran utamanya yang bernama Raja Abdulmuluk Jauhari. Kesenian ini dibawa oleh seorang pedagang keliling yang masih mempunyai darah keturunan Arab yang bernama Wan Bakar ke kota Palembang dengan sistem perdagangan. Dulunya pada 1954 Wan Bakar bertempat tinggal di Kampung Tangga Takat (16 Ulu) Palembang.

Pria yang mempunyai nama lengkap Syekh Ahmad Bakar ini sering sekali melakukan perjalanan berdagang ke Singapura, Negri Johor Malaysia, Kepulauan Riau, dan Pulau Bangka. Ia menyebarkan syair Dulmuluk dari mulut ke mulut,  menceritakannya kepada satu per satu masyarakat atau para sahabatnya yang datang dan bertamu ke rumahnya.

Sedangkan dagangan yang ia jual yaitu rempah-rempah dan hasil hutan untuk dijual di Kepulauan Riau, Singapura dan Malaysia. Selanjutnya, dari Singapura dan Malaysia Ia membawa barang dagangan berupa tekstil, keramik dan barang–barang antik untuk dijual di kepulauan Riau, Bangka, dan Palembang.

Selain ia membawa barang dagangan, Ia juga membawa kitab–kitab bacaan yang berisikan hikayat baik dalam bentuk syair maupun cerita biasa untuk keperluan sendiri, dan di antara kitab–yang ia bawa terdapat kitab syair Abdulmuluk yang dibawa dari Singapura bertuliskan huruf melayu atau yang sering di sebut tulisan Arab gundul.

dulmuluk

(Sumber foto: seputarsumsel.com)

Sedangkan syair Abdulmuluk ini sendiri dikarang oleh seorang wanita yang bernama Saleha yaitu adik perempuan dari Raja Ali Haji Ibn Raja Achmad Ibn yang di pertuan muda Raja Haji Fi Sabilillah yang bertahta di Negri Riau pulau Penyengat Indra Sakti pada abad ke-19.

Ternyata kisah raja Abdulmuluk ini berangsur-angsur tersebar ke seluruh penjuru kota palembang dan sangat digemari oleh masyarakat pada eranya.

Karena ketertarikan tersebut maka akhirnya seluruh masyarakat yang mengemari Dulmuluk berkumpul dan membuat persatuan pecinta Dulmuluk.

Semakin hari jumlah anggota persatuan ini semakin bertambah dan akhirnya tersebar ke seluruh Sumatera bahkan ke Eropa. Berangsur – angsur waktu berjalan akhirnya tercetuslah ide dari para pencinta Syair Dulmuluk untuk menjadikan syair tersebut suatu pertunjukan atau pagelaran.

Dan akhirnya pagelaran pertama kali Dulmuluk pun terlaksana pada 1910 hingga tahun 1930. Itulah bentuk teater Dulmuluk yang masih asli, karena setelah tahun 1930 masuklah sandiwara dan bangsawan dari Jawa maka sedikit berpengaruh pada pertumbuhan Teater Dulmuluk di Palembang, Dan akhirnya setelah tahun 1942 Dulmuluk dimanfaatkan untuk propaganda pemerintah dan disuruh memakai pentas atau panggung.

Maka pada waktu itu teater Dulmuluk sangat digemari masyarakat. Hampir setiap kenduri (sedekahan-red) selalu dimeriahkan dengan pagelaran teater Dulmuluk yang diadakan pada malam hari menjelang atau setelah hari persedekahan, pagelaran diadakan semalam suntuk mulai dari pukul 20.30 hingga pukul 04.00 pagi keesokan harinya.

Wah, ternyata sejarah kesenian tradisional ini nggak main-main ya. Makanya, kita sebagai generasi muda, harus melek sejarah dan paham akan identitas budaya sendiri. Akor?(red/dil)

Artikel Terkait