Laskarwongkito.com — Keberadaan masyarakat China di Palembang tidak dapat dilepaskan dari tempat ibadat Tri Dharma Chandra Nadi atau dalam bahasa Mandarin disebut Klenteng Soei Goeat Kiang. Kalau kita berada dari sisi dermaga Pasar 16 Ilir, tampak di seberang sebuah bangunan merah menyala di sisi Sungai Musi. Ornamennya khas Tiongkok. Dari sekian banyak kelenteng yang tumbuh subur di Palembang, klenteng berlokasi di 10 Ulu ini paling ramai didatangi. Berbagai prosesi ibadah masyarakat Tionghoa di Palembang digelar di sini.

Menuju klenteng ini bisa dilewati dengan jalur darat dan sungai. Kalau kita melalui jalur darat, kita akan menyeberangi Jembatan Ampera, lalu lurus ke Jalan Gubernur Ahmad Bastari, kemudian balik ke arah jalan di bawah Jembatan Ampera, kemudian menuju Jalan Perikanan. Posisi Kelenteng berada di tepian jalan, sebelum menuju Dermaga 10 Ulu.

kelenteng-chandra-nadi

(sumber foto: www.klikhotel.com)

Selain itu, bisa juga melalui jalur sungai dengan naik perahu ketek dari bawah Jembatan Ampera dari dermaga 16 Ilir (depan Pasar 16 Ilir) atau bisa juga melalui dermaga Benteng Kuto Besak. Biaya naik perahu ketek ini berkisar 10-20 ribu per orang, tergantung tawar menawar.

Klenteng tertua di Palembang ini dibangun di kampung 10 Ulu karena di sana terdapat makam seorang Panglima Palembang keturunan Tionghoa bernama Ju Sin Kong atau biasa disebut Apek Tulong, dia beragama Islam.

Menurut mitos orang yang berziarah di sini akan mendapatkan keberkahan atau terbebas dari penyakit. Klenteng Chandra Nadi ini digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.

140901_kwanim4

(sumber foto: images.detik.com)

Memasuki halaman Klenteng Chandra Nadi, aroma dupa (hio) wangi langsung menusuk ke hidung. Dupa sebagai salah satu sarana yang dipercaya sebagai penghubung ke Thien. Dalam arti Thien disebut “langit” atau sebagai Tuhan.

Melangkah masuk ke dalam, kita akan bertemu dengan altar-altar dewa mulai dari altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut.

Selain itu juga ada altar Sakyamoni Buddha (Sidharta Buddha Gautama), altar Bodhisatva Maitreya (calon Buddha), altar Dewi Kwan Tee (pelindung dharma), altar Dewi Paw Sen Ta Tee atau dewi uang dan pemberi rezeki.

klenteng-chandra-nadi-2-kcl

(sumber foto: harpin.files.wordpress.com)

Kemudian altar Dewi Chin Hua Niang Niang atau Dewi Mak Kun Do, altar Giam Lo Ong (raja neraka), dan altar Dewa Toa Pek Kong berbentuk macan. Di bagian belakang klenteng terdapat satu altar yang berisi kumpulan berbagai patung titipan umat dan altar Ju Sin Kong, pelindung Kota Palembang dan diyakini beragama Islam.

Klenteng ini paling ramai dikunjungi pada saat tanggalan Cina pada tanggal 1 (Ce It) dan 15 (Cap Go), banyak muda-mudi dan termasuk orangtua yang datang untuk memanjatkan doa permohonan dan ucapan syukur. Sehingga bagi kamu yang sedang berkunjung di Palembang, jangan lewatkan menilik sejarah dan bangunan lama klenteng tertua di Palembang. (dil/red)

Artikel Terkait