PALEMBANG  — Inflasi di Sumatera Selatan (Sumsel) sampai pertengahan 2016 bergerak naik. Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Selatan (Sumsel) Hamid Ponco Wibowo, Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,83 persen.
“Inflasi terbesar tahun ini terjadi pada Mei yang mencapai 0,63 persen. Sehingga secara kumulatif  sampai saat ini mencapai 0,83 persen. Ini lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya mencapai angka 0,31 persen,” kata  Hamid Ponco Wibowo, Jumat (17/6).
Menurut Hamid Ponco, penyebab meningkatnya inflasi pada bulan Mei tidak sesuai dengan prediksi sebelumnya. “Peningkatan yang terjadi lebih dari biasanya, ternyata penyumbangnya sangat di luar dugaan kita, yaitu kebutuhan tiket pesawat yang penuh membludak karena pada Mei lalu banyak kegiatan nasional di Sumsel, aktivitas penerbangan meningkat dan hotel juga penuh,” ujarnya.
Selain itu, penyumbang inflasi juga dari daging ayam ras yang mengalami kekurangan suplai dan meningkatnya konsumsi rokok sehingga ada bahan-bahan tertentu juga ikut mengalami kenaikan.
Kepala Perwakilan BI Sumsel memperkirakan pada Juni diperkirakan daerah ini akan mengalami inflasi sebesar 0,61 persen (month to month), 1,51 (year to date), 4,53 persen (year on year) angka tersebut adalah hasil survei pemantauan harga murni (SPH). Ditambah dengan penyesuaian sebesar 0,22 persen peningkatan pertama pada saat menyambut Idul Fitri dan diantara empat kota di Sumsel.
“Diperkirakan konsumsi pasti akan naik, tetapi cukup seimbang dengan adanya gaji tiga belas dan tunjangan-tunjangan lainnya. Harapan kita ke depannya, walaupun inflasi naik kalau bisa tidak mencapai angka satu digit,” ujar Hamid Ponco Wibowo.
Sementara itu pada triwulan I 2016 inflasi di Sumsel secara tahunan sebesar 5,05 (year on year) meningkat dibanding triwulan IV 2015 yang tercatat 3,10 (year on year).  (juniara)

RelatedPost