PALEMBANG — Sebagai daerah yang dulu pernah bergabung dengan Indonesia, cukup banyak Warga Negara Indonesia yang saat ini masih berada di Timor Leste. Selain masyarakat asli Timor Leste, ada juga para pendatang yang mengadu nasib dan mencari nafkah di daerah yang memisahkan dari Indonesia pada tahun  1999  ini.

Salah satunya adalah Andi Santoso, eks pelatih Sriwijaya FC U21 yang saat ini melatih klub Atletico Ultramar, klub yang berlaga di Liga Amadora, kasta tertinggi sepakbola Timor Leste. Saat dihubungi, Andi mengaku suasana peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 di Timor Leste berlangsung cukup hikmad.

“Semua WNI di Timor Leste kemarin berkumpul bersama di KBRI Indonesia untuk mengikuti upacara bendera memperingati hari kemerdekaan RI,” ujar pelatih yang membawa SFC U21 menjadi finalis kompetisi Indonesian Super League (ISL) U21 2012-2013 ini. Menurutnya, saat upacara diumulai, dirinya tak kuasa menahan sedih dan tanpa disengaja mengeluarkan air mata.

“Saya hampir tak kuasa menahan air mata, sebagai seorang WNI yang sudah mengikrarkan diri dan bersumpah setia kepada Indonesia, maka hari kemerdekaan adalah hal wajib yang harus dirayakan walau saat ini berada di luar Indonesia, sebelumnya saya juga pernah mengalami hal ini saat masih di Myanmar dulu,” jelasnya.

Diakuinya, proses peringatan kemerdekaan RI di Timor Leste tidak jauh berbeda dengan tanah air, dan juga diisi dengan sejumlah perlombaan seperti tarik tambang, balap karung ataupun makan kerupuk. “Tetapi saya merasa upacara di Timor Leste ini cukup berbeda, entah kenapa apa karena dulu mereka merupakan bagian dari propinsi di Indonesia atau kenapa, yang jelas saat lagu kebangsaan dinyanyikan dan bendera dikibarkan, saya sangat merinding dan menahan air mata,” bebernya.

Terkait profesinya saat ini, Andi mengaku klub yang dilatihnya saat ini tengah memimpin klasemen sementara grup B dengan torehan cukup fantastis, yakni 9 kemenangan dan hanya 1 kali mengalami kekalahan dari 11 pertandingan yang sudah dimainkan. “Disini banyak pemain berbakat dengan postur yang sangat ideal. Dalam waktu 3 tahun kedepan mereka bisa jadi kekuatan baru di Asia Tenggara jika ditangani dengan baik. Namun bila dibandingkan dengan Indonesia, maka infrastukturnya masih tertinggal, terutama sarana lapangan latihan dan stadion pertandingan,” pungkasnya. (dedi)

Artikel Terkait