PALEMBANG — Rencana pembangunan Pasar Cinde menjadi pusat perbelanjaan pasar modern dengan model build operating transfer (BOT) bakal ditinjau ulang. Peninjauan ulang rencana pembangunan pasr modern tersebut diputuskan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin setelah bertemu Kepala Balai Arekologi Sumsel.
“Sudah ada pembicaraan dengan Balai Arkelologi mengenai status Pasar Cinde. Untuk, menyamakan persepsi, BOT ditujukan menjaga salah satu cagar budaya masyarakat Palembang. Balai Arkeolog memahami maksud BOT tetapi jangan sampai bangunan-bangunan bersejarah ini punah. Oleh karena itu kita buat terobosan gedung Pasar Cinde desainnya tetap yang dulu tapi direvitalisasi,” kata Gubernur Alex Noerdin, Selasa (21/6).
Menurut AlexNoerdin, saat ini kesepakatannya pembangunannya tidak meninggalkan jejak Pasar Cinde. “Ada konservasi dan ada revitalisasi. Kalau konservasi tidak boleh diubah-ubah tetapi harus dirawat,” ujarnya.
Namun orang nomor satu di Sumsel tersebut mengaku sangat prihatin melihat kondisi Pasar Cinde saat ini. Menurutnya, selain jorok, gedung tersebut juga sudah sangat tua dan perlu peremajaan gedung agar tidak membahayakan membahayakan masyarakat yang melakukan aktifitas jual beli di pasar yang dibangun tahun 1958 tersebut.
“Kalau masuk (Pasar Cinde) pasti tutup hidung, jorok dan kotor, kalau tidak benar bisa roboh. Itu yang perlu direvitalisasi dengan kesepakatannya tidak meninggalkan bentuk yang lama,” katanya.
Alex Noerdin juga mengingatkan, seharusnya masyarakat dapat memberi tahu sejak jauh hari sebelum dilaksanakannya BOT Pasar Cinde menjadi pasar modern mengingat wacana mengubah pasar yang kumuh, jorok dan berumur tua tersebut telah lama direncanakan.
Untuk revitalisasi Pasar Cinde, Alex Noerdin memberi contoh dengan Menara Pisa atau menara miring di Itali yang tidak boleh diubah tetapi direvitalisasi supaya tidak roboh. Konsep yang sama juga akan dilakukan terhadap Pasar Cinde agar lebih bagus, bersih, dan bentuk yang lama dipertahankan.
Pasar Cinde merupakan karya arsitektur Herman Thomas Karsten dibangun dengan tiang-tiang penyangga berbentuk cendawan dan pasar ini memiliki kembarannya Psar Johar di Semarang.
“Di Pasar Cinde ada tiang cendawan itu yang filosofinya masyarakat kita jualan di bawah pohon. Revitalisasi nanti di bawah tiang itu nanti akan tetap ada. Tapi struktur gedung yang baru itu diubah,” kata Alex Noerdin. (juniara)

RelatedPost