PALEMBANG — Pasca terjadinya kerusuhan pembakaran rumah ibadah di Tanjung Balai Sumatera Utara, Kantor wilayah kementerian agama Sumatera selatan (Kanwil Kemenag Sumsel) bersama forum kerukunan umat beragama (FKUB), tokoh lintas agama serta pimpinan ormas menggelar dialog dan menyatakan sikap bersama di Kanwil Kemenag Sumsel, Senin (01/8).

Kepala Kwanwil Kemenag Sumsel, Hambali mengatakan dari pertemuan tersebut ada tujuh kesepakatan yang dihasilkan, yakni pertama berperan secara pro-aktif dalam upaya menjaga stabilitas keamanan, ketertiban dan kerukunan antar umat beragama di Provinsi Sumsel.

Kedua Menjadi contoh dan teladan bagi seluruh jajaran, anggota serta masyarakat dalam upaya menjaga kerukunan antar umat beragama di Provinsi Sumatera Selatan

Ketiga, Bersama-sama menjaga sarana dan prasarana rumah ibadah dari gangguan pihak yang tidak bertannggung jawab di Sumsel.

Keempat, Bersedia menjadi penyampai informasi dan mengajak seluruh jajaran/anggota/masyarakat mengenai arti pentingnya kerukunan dan kebersamaan antar umat beragama.

Kelima, mendukung proses penegakan hukum dalam upaya menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di Sumse

Keenam, bersama-sama bertekad menjaga kondusifitas dan menolak segala bentuk anarkisme di Sumsel.

Ketujuh, sepakat mendukung implementasi layanan informasi kerukunan umat beragama berbasis.informasi dan teknologi.

Menurut Hambali, Kerusuhan umat beragama yang terjadi di mana saja, termasuk di Tanjung Balai membangunkan pihaknya dari tidur agar jangan terlena dalam suasana yang kondusif dari kerukunan umat beragama itu sendiri. “Jadi kita harus antisipasi terlebih dahulu. Saya juga mengaharapkan agar kabupaten kota menggelar acara yang sama supaya apa yang terjadi tidak akan terjadi di tempat kita dan sebagai langkah antisipasi,” tutupnya. (juniara).

RelatedPost