PALEMBANG — Ribuan mahasiswa Unsri menggeruduk ruang rektor Unsri. Demo masalah Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Universitas Sriwijaya ini memang Demo Mahasiswa Unsri Tuntukian memanas.

Polisi bertindak agresif setelah para mahasiswa mencoba menerobos dan memecahkan kaca pintu rektorat.

Melihat hal itu, Presiden Mahasiswa (Presma) Unsri 2008/2009 yang sekarang menjabat sebagai staff DPD RI, Febriansyah menyampaikan pendapatannya.

Menurut Febri, sebuah aksi demontrasi itu tidak sewajarnya mengalami chaos ataupun rusuh.

‎ Namun, memang menurutnya, banyak hal-hal yang tidak diprediksi di lapangan yang bisa mengakibatkan kerusuhan.

Febri menjelaskan, demo sebenarnya merupakan upaya terakhir untuk menyampaikan aspirasinya.

Karena, sebelum melakukan aksi demo, ada beberapa tahapan yang harus dilalui.

“Biasanya mereka ini audiensi dulu, bertemu menyampaikan aspirasinya. Cara-cara seperti itu dulu yang dilakukan, sebelum mereka menunjukkan kekuatannya dan turun untuk aksi ke jalan. Demo adalah alternatif terakhir. Karena dengan demo isu yang dihembuskan itu semakin besar,” terangnya, Kamis (3/8/2017).

Febripun menyebutkan, langkah melakukan demo tersebut merupakan hal yang positif.

Namun ditengah perjalanan dengan kondisi yang memburuk dan tidak bisa diprediksi sehingga membuat kerusuhan terjadi.

“Menurut pengalamannya. Biasanya kerusuhan itu terjadi karena ada provokator, baik dari masa aktif atau dari luar dalam hal ini oknum-oknum tertentu. Atau karena aspirasi mereka yang dengungkan ini tidak ditanggapi,” katanya.

Disinggung, karena hanya tiga mahasiswa yang diblokir sistem akademiknya namun membuat ribuan mahasiswa terlibat aksi demo.

Febri mengatakan, itu merupakan hal yang wajar, karena memang mahasiswa berusaha menunjukkan aksi solidaritasnya.

“Ini wajar, membentuk solidaritas sesama mahasiswa. Tidak pantas juga pihak rektorat memblokir sistem akademi mahasiswanya secara sepihak,” ungkapnya.

Menurut Febri, bukan suatu yang wajar juga, bila pihak rektorat melaporkan mahasiswanya ke polisi lantaran kasus seperti ini.

Febri menjelaskan, ini merupakan masalah internal yang mana jika anak didiknya salah sebaiknya harus diluruskan.

“Seperti orang tua dan anak, kalau salah ya ditegor, tidak mesti dilaporkan,” katanya.

Disinggung penyebab utama demo ini adalah masalah UKT.

Menurut data yang dimilikinya, UKT ini memang sering menjadi masalah dibeberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Febripun menganggap permintaan mahasiswa semester 9 yang meminta UKTnya di turunkan sebesar 50 persen merupakan hal yang wajar, karena dibeberapa PTN memang menerapkan hal tersebut.

“Coba cek saja ya. Seperti di Unila, anak-anak di semester sembilannya memang UKTnya dipotong 50 persen. Harusnya Unsri juga berkaca, kenapa yang lain bisa, Unsri tidak bisa, dan tetap bersikukuh,” tegasnya. (net/Tribun)

Artikel Terkait