PALEMBANG — Dana bagi hasil yang diterima Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami penurunan menyusul anjlok harga minyak bumi di pasar internasional.
“Saat ini Pemerintah Provinsi Sumsel merasakan imbas keterpurukan harga minyak internasional. Pendapatan daerah dari dana bagi hasil migas tahun 2016 merosot tajam dibandingkan tahun lalu,” kata Robert Heri Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumsel, Sabtu (18/6).
Menurutnya, pada 2016 Sumsel hanya mengantongi Rp362 miliar sementara pendapatan pada 2015 menyentuh Rp1,1 triliun. “Belum lagi penyaluran dana bagi hasil migas yang mengalami ketelambatan,” ujarnya.
Robert Heri mengakui, Sumsel sebagai daerah penghasil migas namun belum juga bisa sejahtera. “Demikian pula dampak lingkungan penambangan yang harus ditanggung pemerintah daerah,” katanya.
Untuk pendapatan daerah dari sektor migas, menurut Robert Heri, Sumsel menginginkan peningkatan dana bagi hasil yang lebih tinggi lagi dari peraturan saat ini untuk daerah penghasil minyak dan gas.
“Saat ini dana bagi hasil minyak dan gas hanya diterima pemerintah daerah penghasil 15,5% dari jumlah tersebut juga menanggung biaya pengeboran yang seharusnya hanya dibebankan pada perusahaan. Karena persentase rendah tersebut maka pendapatan yang diterima daerah rendah. Akibatnya, migas bisa dikatakan tidak berkontribusi besar bagi pendapat asli daerah,” ujar Robert Heri.
Provinsi Sumsel selama ini pendapatan asli daerah terbesar juga berasal dari migas. “Terhadap ketimpangan bagi hasil tersebut, sudah pernah dilakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi, hasilnya belum juga sesuai keinginan kita,” ujar Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumsel.
Idealnya menurut Robert, “Bagi wilayah yang daerahnya memproduksi dan kekayaan alamnya dieksploitasi, seharusnya mendapatkan 40 % dari dana bagi hasil. Dengan pembagian sebesar itu, Sumsel bisa mendapatkan hingga Rp3 triliun.”
Atas permasalahan tersebut menurut menurut Kepala Porgram Pelaporan dan Humas SKK Migas Taslim Yunus yang berbicara pada seminar nasional bertema “Kontribusi CSR Migas Terhadap Pembangunan Ekonomi Daerah” mengatakan aktivitas penambangan migas di Indonesia mengalami permasalahan yang cukup beragam.
“Saat ini keterpurukan industri migas akibat harga minyak dunia yang menurun, akibatnya harga jual minyak anjlok termasuk Sumsel juga menurun dan berpengaruh pada dana bagi hasil migas. (juniara)

RelatedPost