PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) menargetkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda daerah ini dan memicu terjadinya kabut asap pada 2015 lalu tidak terulang kembali paa 2016.
Mencegah terulangnya Karhutla tersebut Pemprov Sumsel melakukan sejumlah antisipasi, salah satunya menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC). “Kita telah menerima satu unit pesawat Cassa 212 yang digunakan untuk teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan untuk mengantisipasi musim kemarau dan curah hujan pun berkurang,” kata Yulizar Dinoto Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Provinsi Sumsel, Selasa (14/6)
Menurut Yulizar Dinoto, “TMC ini diharapkan dapat memaksimalkan potensi hujan yang ada di Sumatera Selatan khususnya di wilayah Musi Banyuasin, Palembang, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir dan sekitarnya yang sudah masuk musim kemarau.
Yulizar menjelaskan, di Sumsel sudah terjadi kebakaran hutan di kawasan hutan Muara Medak dan sudah langsung dipadamkan oleh tim pemadam karhutla udara. “Kita melakukan waterbombing dengan menggunakan dua unit helikopter MI-8 berkapasitas 5.000 liter air dalam satu kali penerbangan,: ujarnya.
Sementara itu Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wimpie menjelaskan, BPPT akan menaburkan empat ton garam NaCl setiap harinya menggunakan dua unit pesawat Cassa yang terdiri dari satu unit pesawat dengan nomor registrasi PK-PCT PT Pelita Air Service dan satu unit pesawat TNI AU Skuadron 4 Malang.
Untuk tahap awal operasi, telah dipersiapkan 20 ton garam yang tersedia di posko. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan kebutuhan di lapangan.
“Saat ini pesawat baru ada satu PK-PCT. Pesawat TNI AU akan datang dalam waktu dekat. Satu pesawat sanggup terbang dua kali sehari dengan satu kali penerbangan mampu menaburkan satu ton garam,” tuturnya.
Menurut Wimpie, operasi TMC tahun ini sedikit berbeda dan merupakan pengembangan dari operasi tahun lalu. “Tahun ini mitigasi bencana dilakukan lebih awal dan lebih terintegrasi dengan sistem monitoring lapangan. (juniara)

RelatedPost