PALEMBANG — Memasuki musim kemarau tahun 2017 ini, lima provinsi di Indonesia telah menyatakan siaga darurat terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo mengatakan, berdasarkan pantauan yang dilakukan pihaknya dari satelit terlihat adanya kenaikan titik api (Hotspot).

“Kalau kita melihat pantauan dari berbagai satelit seperti satelit Modis, Xperia, Aqua, SNSD dan sebagainya, dalam seminggu terakhir memang terpantau terjadi peningkatan hotspot yang terjadi di berapa tempat. Daerah yang paling banyak terpantau hotspot yakni di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), kemudian di Aceh dan Kalimantan Barat (Kalbar),” ucapnya saat diwawancarai di Kantor BPBD Sumsel, Kamis (3/8).

Lanjutnya, tiga Provinsi ini paling banyak terpantau hotspot, dan pihaknya melihat karakteristik kebakaran yang terjadi setiap daerah berbeda-beda.

“Kalau di Kalimantan Barat kebanyakan adalah di daerah lahan gambut, sehingga menimbulkan asap. Bahkan pantauan satelit beberapa hari yang lalu sempat merekam adanya asam sulfat yang mengepung beberapa daerah bahkan sebagian juga masuk ke bandara. Namun secara umum kondisi masih normal,” jelasnya.

Selain 3 provinsi diatas yang memiliki jumlah hotspot terbanyak, tambahnya, 5 provinsi di Indonesia yang sudah menetapkan status siaga darurat yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

“Sedangkan Kalimantan Tengah masih dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk menentukan apakah perlu menetapkan status siaga darurat atau tidak. Dengan adanya status siaga darurat maka ini bisa memberikan pendampingan terutama kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya ekstrim seperti helikopter, water bombing maupun hujan buatan,” tukasnya. (dil)

Artikel Terkait