PALEMBANG — Meski bukan warga negara Indonesia, namun momen peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus juga turut dirayakan oleh legiun asing Sriwijaya FC. Memang dari 4 punggawa asing laskar wong kito musim ini, kecuali Tijani Belaid yang baru pertama kali bermain di Indonesia, yang lainnya merupakan tergolong pemain yang sudah cukup lama merumput di tanah air.

Seperti Yu Hyun Koo yang sudah memasuki tahun ke-7 bermain di Indonesia, sementara Hilton dan Alberto Goncalves jauh lebih lama lagi. Duo Brasil ini sudah bermain lebih dari sepuluh tahun di Indonesia.

Ketiganya pun punya cara untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada Indonesia, tempat mereka mencari nafkah selama ini. Yu Hyun Koo sendiri memasang gambar dirinya bersama istri serta anaknya saat mengikuti perlombaan 17 Agustus di Palembang.

“Anak saya suka sekali lomba makan kerupuk dan balap karung, sesuatu yang tidak kami temui di Korea. Tadi saya menemani Sung Hoo mengikuti perayaan 17 Agustus di sekolahnya,” ujar Yu Hyun Koo saat dihubungi Kamis (17/8) sore. Fotonya bersama kelurganya saat mengibarkan bendera merah putih pun dipajangnya di akun sosial media miliknya dan mendapat komentar dari sejumlah rekannya.

Sementara itu, Hilton Moreira juga mengaku bahwa perayaan hari kemerdekaan di Indonesia hampir mirip dengan di negara asalnya. “Sama saja, disana juga semua senang jika hari kemerdekaan tiba, banyak lomba juga seperti di Indonesia. Tetapi di Brasil kami merayakannya setiap 7 November,” ungkapnya.

Kompatriotnya, Alberto Goncalves bahkan mengaku sangat mencintai Indonesia, negara yang disebutnya sudah banyak memberikan rejeki bagi kehidupannya. “Terima kasih Indonesia, di negara ini saya bisa mendapatkan pekerjaan, kemudian bisa menafkahi keluarga dan membeli rumah serta hal lainnya,” ungkap top skor kompetisi TSC 2016 ini.

Karena kecintaannya tersebut, Beto pun mengaku memiliki beberapa lukisan yang menggambarkan Indonesia. “Ada beberapa lukisan favorit saya, mulai dari gambar kawasan kumuh di Brasil yang disertai anak kecil bermain bola. Kebanyakan pesepakbola asal negara saya memulainya seperti itu, termasuk saya pribadi. Dulu kehidupan ekonomi keluarga saya tidak terlalu bagus, tetapi sepakbola sudah merubahnya,” kenangnya.

Lalu ada juga gambar patung Yesus yang merupakan landmark negaranya ditambah bendera kebesaran Brasil. “Selain gambar tersebut, saya kini melengkapinya dengan lambang negara Indonesia yakni burung Garuda. Ini symbol bahwa saya juga sangat menghormati negara ini,” tambahnya.

Selain itu, pemain berdarah Brasil berusia 32 tahun itu hampir jadi Warga Negara Indonesia (WNI) angkatan pertama bersamaan dengan Cristian Gonzales pada 2010 silam. Namun akhirnya dia gagal berpaspor Indonesia karena saat itu dirinya mengalami cedera patah tulang tumit kanan di tahun yang sama. Sehingga PSSI sebagai federasi sepakbola tertinggi di Indonesia memutuskan hanya Gonzales yang dinaturalisasi. Ketika itu, Beto memang sempat pulang selama 7 bulan ke Brasil untuk memulihkan cederanya.

“Banyak orang yang tanya kepada saya, kenapa tidak jadi orang Indonesia saja. Apalagi saya sudah lebih 10 tahun main di sini dan punya istri orang Indonesia. Tapi dulu saya hampir jadi orang Indonesia kalau tidak cedera,” kenangnya.

Dan kini setelah sembuh, pemain yang lekat dengan nomor punggung 9 itu seakan sudah dilupakan oleh PSSI. Karena sudah banyak pemain naturalisasi keturunan Belanda yang menghiasi timnas Indonesia. Namun Beto ingin membuktikan kalau kualitasnya tak kalah dengan pemain naturalisasi yang membanjiri skuad timnas saat ini.

“Saya lebih senang kalau Indonesia mau naturalisasi pemain karena prestasi,” ujarnya. (dedi)

Artikel Terkait