PALEMBANG — Komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tentang penanganan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumsel melalui Satuan Tugas (Satgas) darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sumsel 2016, dapat dipastikan terus berjalan dengan baik.

Hingga memasuki bulan September ini tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan bencana kabut asap. Dibandingkan tahun lalu, kondisi ini menunjukan bahwa upaya pencegahan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumsel selama ini sudah mulai membuahkan hasil.

Komandan satgas darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sumsel Kolonel Inf. Kunto Arif Wibowo mengatakan, sejak ditetapkan status keadaan siaga darurat sejak 1 Maret lalu, perkembangan titik api di seluruh wilayah Sumsel dapat disimpulkan masih dalam keadaan aman.

Menurutnya, walaupun di sepanjang bulan Agustus kemarin titik api setiap harinya terpantau beragam dan naik turun akibat cuaca panas yang cukup ekstrim, namun kondisi ini masih dapat dikendalikan.

“Sampai hari ini titik api terpantau bukan berada di lahan gambut melainkan berada di lahan mineral, diakibatkan masih ada masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar, sebagian besar sebaran titk api berada di berbagai daerah,” ungkap Kunto Arif wibowo saat memimpin rapat gabungan satgas di Posko Utama BPBD Sumsel, Kamis (1/9).

Kunto Arif Wibowo mengungkapkan, berbagai upaya pencegahan terus dilakukan mulai dari satgas udara yakni water bombing dan teknologi modifikasi cuaca.

Pencegahan ini juga diperkuat dengan patroli rutin di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan oleh pemerintah daerah  bersama Satgas BPBD provinsi, kabupaten, Pol PP, SKPD terkait, Pokmas, Desa Peduli Api, TNI dan Polri.

Kemudian melibatkan pula Patroli Manggala Agni, tim patroli perusahaan perkebunan dan perusahaan kehutanan (HTI). Sementara untuk sosialisasi pencegahan melalui dilakukan langsung Satgas Penegak Hukum (Gakum) kepada masyarakat disekitar wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan.

“Upaya pencegaha juga kita lakukan dengan membentuk posko di seluruh wilayah rawan mulai dari posko bersama. Total keseluruhan ada 227 posko Karhutlah,” terangnya.

Plh BPBD Sumsel Iriansyah menjelaskan, sepanjang bulan Agustus kemarin terpantau titk api bervariatif setiap harinya dengan sebaran di seluruh kabupaten dan kota di Sumsel. Sempat terjadi kebakaran disebabkan cuaca panas yang cukup ekstrim namun tidak menimbulkan kebakaran hutan yang besar.

“Upaya pencegahan terus kita lakukan, pantauan titik api setiap harinya kita evaluasi dan dibahas bersama dalam rapat harian dan rapat gabungan setiap hari Kamis,” ujarnya.

Dari laporan harian posko utama satuan tugas siaga darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan Sumsel pada  Kamis, 1 September menunjukkan titik api (Hotspot) di wilayah Sumsel terpantau hanya ada 2 yakni berada di Desa Tempirai dan Desa Suka Rami Kecamatan Penungkal Utara Kabupaten PALI.

Data ini berdasarkan pantauan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Untuk kondisi cuaca di Bandara SMB II Palembang menunjukan Jarak Pandang 10 KM, Arah Angin Tenggara dan Cuaca Berawan.

Sementara, dari data hasil pemantauan oleh UPTB Lab Lingkungan Provinsi Sumatera Selatan menunjukan nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sampai dengan 30 Agustus 2016 kwalitas udara masih dalam keadaan baik yakni dengan rata-rata indeks pencemaran udara O3, NO2, SO2, CO, dan PM10 di bawah angka 50. (ril/humas pemprov sumsel)

Related Post