Jakarta: Emas pertama yang diraih Indonesia dari cabor bulutangkis beregu setelah mengalahkan Malaysia, di Istora GBK, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (7/10) siang, ditentukan oleh tunggal kedua Deva Anrismuthi. Ketangguhan di lapangan ternyata berlapis kemuliaan hatinya untuk membalas budi baik kedua orang tuanya dengan meniatkan bonus yang didapatkannya nanti untuk memberangkatkan umroh.
Pertarungan pertama antara Fredy Setiawan melawan Muhammad Nurhilmie dengan angka meyakinkan 21-6 21-12 memang membuka asa besar akan genggaman emas. Namun kejadian sesaat berubah, sorak sorai penonton sesaat hening, setelah ganda Hafizh Briliansyah/Hary Susanto yang main bagus di semifinal ternyata kalah dari ganda Malaysia.
Oleh karenanya kemenangan harus ditentukan dengan memainkan tunggal kedua Deva Anrimusthi yang berjibaku dengan Mohammad Faris Ahmad Azni. Sempat grogi, namun atas bisikan pelatih dan kawan-kawan seperjuangan dapat fokus kembali. Poin demi poin diraih, akhirnya 21-6 21-12 dapat menyudahi perlawanan Malaysia.”Saya sempat grogi, beban berat sebagai penentu, namun saya fokus kembali untuk meraih poin demi poin, ini pembelajaran sekaligus kebanggaan,” kata Deva.
Menyandang disabilitas bukan sebuah hambatan untuk berbuat yang terbaik. Ketangguhan dan ketenangan serta semangat garang di lapangan ternyata dilapis kemulian hati yang luarĀ  biasa. Cita-cita pertamanya ketika ada yang menanyakan tentang bonus adalah ingat orang tua yang melahirkan, membesarkan, dan selalu mengayominya.
“Saya masih ingin fokus menuju pertandingan-pertandingan selanjutnya, tapi kalau untuk bonus saya ingin mengumrohkan orang tua. Orang tua saya luar biasa, selalu bangga dengan anaknya dalam kondisi yang beda dengan yang lain sekalipun,” ucap Deva dengan getaran bibirnya penuh keharuan. (cah/ril)

Artikel Terkait