Laskarwongkito — Sejatinya, Bahasa Palembang mempunyai dua tingkatan, yaitu Baso Pelembang alus ataubebaso dan Baso Pelembang sari-sari.

Namun, seperti kebanyakan kota besar lainnya di tanah air, bahasa asli biasanya akan mudah sekali hilang dan berganti dengan bahasa pasaran atau sehari-hari. Seperti bahasa jawangoko, bahasa elu-gua Betawi, logat banyumasan hinggabaso Plembang sendiri.

tari-tanggai-view-e1398767843683

(Sumber foto: bp.blogspot.com)

Nah, tahukah kamu jika bebaso di Palembang sendiri saat ini sudah sangat jarang sekali yang mengenalnya, apalagi sampai mahir menggunakannya.

Berikut Tim LWK akan mengajak kamu mengenal sekilas tentang bahasa halus Palembang ini.

Baso Pelembang alus dipergunakan dalam percakapan dengan pemuka masyarakat, orang-orang tua, atau orang-orang yang dihormati, terutama dalam upacara adat.

Bahasa ini mempunyai kemiripan dengan bahasa Jawa karena adanya hubungan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam dengan kerajaan di pulau Jawa. Itulah sebabnya perbendaharaan kata Baso Pelembang Alus banyak persamaannya dengan perbendaharaan kata dalam bahasa Jawa.

Sementara itu, baso sehari-hari dipergunakan oleh wong Palembang dan merupakan salah satu dialek bahasa Melayu. Dalam praktiknya sehari-hari, orang Palembang biasanya mencampurkan bahasa ini dan bahasa Indonesia (pemilihan kata berdasarkan kondisi dan koherensi) sehingga penggunaan bahasa Palembang menjadi suatu seni tersendiri.

Bahasa Palembang memiliki kemiripan dengan bahasa daerah di provinsi sekitarnya, seperti Jambi, Bengkulu bahkan provinsi di Jawa (dengan intonasi berbeda). Di Jambi dan Bengkulu, akhiran ‘a’ pada kosakata bahasa Indonesia biasanya diubah menjadi ‘o’.

Bebaso juga enak didengar dan dipandang mata, karena penyampaiannya secara sopan dan halus, nada suaranya tidak tinggi, lembut, serta dengan sikap merendah.

Biar jelas perbedaannya, yuk kita simak contoh dua bahasa Palembang Pasaran (P) dan Bebaso (B) :

P : Mang Cek, aku ni nak betanyo, dimanolah rumah Cek Awang?

B : Mang Cek, kulo niki ayun betaken, pundila rompol Cek Awang?

(Paman, saya mau bertanya, dimanakah rumah Pak Awang?)

P : O, idak jao, parak rumah aku, itulah rumah Cek Awang.

B : O, nano tebe, pangge rompok kulo, nikula rompok Cek Awang.

(O, tidak terlalu jauh, dekat rumah saya, di situlah rumah Pak Awang)

Cukup jauh ya bedanya, antara bahasa pasaran denganBebaso.

Nah, di bawah ini ada beberapa kosa kata yang digali di beberapa sumber. Disimak ya, syukur-syukur bisa dihapal dan dipraktekkan.

  1. Leser Beboso Plembang = Benar Berbahasa Palembang
  1. Angsal Nano Kulo Betaken ? = Boleh Tidak Saya Bertanya ?
  1. Angsal Saos = Boleh Saja
  1. Nikoh Ayun Ke Pundi ? = Kamu Mau Kemana ?
  1. Sampun Nedoh = Sudah Makan
  1. Wenten Napi ? = Ada Apa ?
  1. Tingali = Lihat/Lihatlah
  1. Nano Wenten = Tidak Ada
  1. Tumbas = Untuk
  1. Bedamel = Bekerja
  1. Nano Bedamel = Tidak Bekerja
  1. Sampun Lambat = Sudah Lama
  1. Saek = Baik
  1. Sampun Cindo = Sudah Bagus/Sudah Cantik
  1. Maleh = Masih
  1. Kelab Sinten ? = Kata Siapa ?
  1. Mentari Sampun Mencereng = Matahari Sudah terbit
  1. Didinyo = Katanya
  1. Pangkeng = Kamar
  1. Kengken/Kongkon = Suruh
  1. Kulo = Saya
  1. Enggeh = Iya
  1. Cindo nian = Cantik sekali
  2. Niki = ini
  1. Rompok = rumah

 

dulmuluk

(Sumber foto: seputarsumsel.com)

Sebagai perbandingannya, berikut Bahasa Pasaran Palembang dari kosakata di atas.

  1. Bener Bebaso Plembang = Benar Berbahasa Palembang
  2. Boleh dak aku betanyo ? = Boleh Tidak Saya Bertanya ?
  1. Boleh bae = Boleh Saja
  1. Kau nak kemano ? = Kamu Mau Kemana ?
  1. La makan = sudah Makan
  1. Ado Apo ? = Ada Apa ?
  1. Jingok / Seliklah = Lihat/Lihatlah
  1. Dak Katik = Tidak Ada
  1. Untuk = Untuk
  1. Begawe = Bekerja
  1. Idak Begawe = Tidak Bekerja
  1. La Lamo = Sudah Lama
  1. Baek = Baik
  1. La baek = Sudah Bagus/Sudah Cantik
  1. Mase = Masih
  2. 16.  Kato Siapo ? = Kata Siapa ?
  1. Matohari la Muncul = Matahari Sudah terbit
  2. 18. Katonyo = Katanya
  3. 20. Kamar = Kamar
  1. Kongkon = Suruh
  1. Aku = Saya
  1. Iyo = Iya
  1. Cantik Nian =cantik sekali

Perhatikan contoh percakapan sehari-hari menggunakan bahasa melayu Palembang (Baso Plembang) :

+ Payah Nian mak ini ari, segalo kebutuhan la mahal galo… (Susah sekali sekarang ini, segala kebutuhan sudah mahal semua).

– Sabar Bikcek, siapo tahu kagek ado bae yang ngenjuk duit ( Sabar mba’, siapa tahu nanti ada saja yang ngasih uang)

+ Idak kelokaknyo, besak kelakar kau ini ( Tidak mungkinlah, asal ngomong kamu ini)

– Yo..sudahlah kalu mak itu, aku nak ke pucuk dulu ye ( Ya…Sudahlah kalau begitu, saya mau ke atas dulu ya..)

+ Lajulah….lemak pulok duduk aku ni, dari tadi nak beringgut dikit bae saro nian ( Silahkan…enak juga posisi duduk aku ini, dari tadi mau bergerak saja susah sekali)

– Gek kito sambung lagi… (nanti kita sambung lagi)

Bagaimana asyik bukan?  Mari bersama kita lestarikan budaya dan bahasa Palembang kita. Sehingga, ketika anak-cucu kita nanti bertanya tentang hal ini, kita bisa menjawabnya. (red/dil)

Related Post