Meski dinilai belum sempurna, namun pelaksanaan turnamen Piala Presiden 2015 dianggap mampu menjawab kerinduan pelaku sepakbola di tanah air pasca pembekuan PSSI oleh Menpora. Walau sempat mendapat keluhan seperti aturan perekrutan pemain, namun pelatih Sriwijaya FC Beny Dollo dan Didik Ludiyanto (Persela Lamongan) menganggap gawean Mahaka Sports and Entertainment ini sudah cukup baik.

Selain aturan peminjaman pemain, aturan lain yang sempat menjadi perdebatan adalah aturan water break di tengah pertandingan. Pasalnya Persela Lamongan di laga perdana sempat dianggap dirugikan oleh pengadil di lapangan mengingat gol balasan oleh Arema Cronus tercipta di menit yang sudah melewati batas waktu tambahan.

“Saya memang tidak terlalu mengenai regulasinya, namun memang saat melawan Arema kemarin gol tercipta di menit 95, lebih dari 1 menit dari injury time yang dikeluarkan wasit. Harus ada aturan yang lebih jelas, karena memang ada perbedaan antara waktu wasit dan televisi. Semestinya jika tidak distop, maka pemberitahuan mengenai waktu tambahan baru dikeluarkan pada menit 93,” harapnya.

Didik juga mengharapkan agar saat menghentikan pertandingan dapat dilakukan dengan bijak. “Jangan saat tim sedang menyerang tiba-tiba dihentikan, tetap harus menunggu bola mati terlebih dulu,” ungkap Didik.

Sementara itu, Bendol sendiri menganggap aturan water break tetap perlu diterapkan di turnamen Piala Presiden kali ini. “Saya pikir sudah tepat, karena hampir seluruh tim yang ikut di turnamen ini tidak punya persiapan yang cukup. Jadi di babak 8 besar nanti harus terus diterapkan, cuma memang aturannya yang lebih diperbaiki dan jangan sampai merugikan tim yang sedang bermain di lapangan,” ujar Bendol.

Keduanya pun tidak mempermasalahkan mengenai laga ketiga di setiap grup yang dilaksanakan tidak secara bersamaan. Pasalnya, di turnamen-turnamen lain, laga terakhir yang menentukan kelolosan tim di sebuah grup biasanya digelar berbarengan untuk menghindari adanya main mata.

“Memang lebih bagus kalau berbarengan, namun tidak masalah juga karena untuk Persela sebenarnya nasib berada di tangan kami sendiri dan tidak bergantung dengan tim lain. Jika ingin lolos maka wajib menang sehingga apapun hasil di laga Arema melawan Ciamis tidak akan berpengaruh lagi,” jelasnya.

Keduanya pun berharap bahwa turnamen Piala Presiden ini dapat menjadi titik balik kebangkitan sepakbola nasional.
“Kalau berbicara kualitas turnamen, menurut saya seluruh tim yang ikut tidak dalam penampilan terbaiknya, namun ini lebih baik karena pelaku sepakbola butuh pertandingan untuk meneruskan hidupnya. Jadi secara umum saya menganggap pelaksanaan turnamen ini sudah tepat dan sangat baik,” jelas Bendol.

Sementara Didik mengungkapkan bahwa di turnamen Piala Presiden ini, dapat dilihat bagaimana besarnya animo masyarakat terhadap kebangkitan sepakbola nasional. “Semoga yang di atas dan pemangku kebijakan dapat melihat dan menyelesaikan konflik yang berkepanjang ini. Dan setelah ini jangan sampai ada kevakuman kompetisi lagi,” tambahnya.