Piala Gubernur Sumsel Cup 2015 menjadi turnamen pra musim yang sempurna untuk Sriwijaya FC. Pasalnya, meski berhasil merebut gelar juara namun beberapa kekurangan di dalam tim berhasil terlihat di turnamen yang baru pertama kali digelar ini. Seperti bagaimana kesulitannya Ferdinan Sinaga dkk menembus gawang dua kontestan divisi utama, PSPS Riau dan Martapura FC yang notabene tidak diperkuat oleh pemain asing serta hanya mengandalkan pemain lokal.
Lalu saat SFC hanya mampu bermain imbang dengan Semen Padang, pencapaian yang dapat dikatakan menurun mengingat sebelumnya Titus Bonai dkk mampu mengalahkan tim lawan justru saat bermain di kandang lawan. Jadi turnamen yang digelar sebagai bagian dari Road To Asian Games 2018 ini memperlihatkan bagaimana bahwa target utama untuk merebut kembali gelar juara Indonesian Super League (ISL) 2015 harus dipersiapkan dengan lebih matang dan penuh kerja keras lagi.
Dari 3 laga yang dimainkan, hanya 4 gol yang berhasil diciptakan oleh anak asuh Beny Dollo dan dua diantaranya dicetak oleh Goran Ljubojevic. Namun faktanya bahwa Goran kini sangat bergantung kepada Ferdinan Sinaga, karena dari 3 gol terakhir yang dicetaknya di pra musim ini semuanya berasal dari assist pemain terbaik ISL musim lalu ini. Kemudian terlihat jelas juga bahwa tim pelatih perlu menemukan formula untuk meningkatkan performa Morimakan Koita, legiun asing yang awalnya digadang-gadang akan menjadi jenderal lapangan SFC.
Dari 3 pertandingan yang dimainkan, tercatat pemain asal Mali ini hanya bermain sebagai starting eleven sebanyak 2 kali dan seperti kalah bersaing dengan deretan pemain lokal lainnya. Tentu turnamen ini menjadi tes sempurna bagi tim pelatih mengingat kick off ISL sudah semakin mata dan jika tidak terjadi penundaan kembali akan segera digelar pada 4 April mendatang.
Itu dari sisi teknis, sementara di bagian lain turnamen Piala Gubernur Sumsel Cup 2015 ini juga memberikan gambaran bagi manajemen PT SOM mengenai turunnya animo penonton dan pecinta sepakbola di Palembang. Dari 3 laga yang dimainkan, jumlah penonton sangat sedikit dan deretan pemain papan atas di SFC seperti belum menjadi magnet untuk membawa mereka berbondong-bondong memenuhi stadion GSJ.
Diperlukan strategi yang matang untuk mengembalikan animo masyarakat dan turnamen ini menjadi simulasi yang ideal bagi seluruh panpel. Final yang digelar pada malam hari juga dipilih karena saat ISL nanti SFC akan banyak memainkan partai di jam yang sama. Jadi, berterima kasihlah kepada penyelenggara Piala Gubernur Sumsel Cup 2015, ajang ini memperlihatkan kelemahan yang harus diperbaiki secepatnya. Masih cukup waktu untuk berbenah, terus semangat SFC !!