Dalam posisi tertinggal 0-1 dari tuan rumah Arema Cronus di leg pertama babak semifinal Piala Presiden 2015, keputusan berani ditunjukkan pelatih Sriwijaya FC dengan memasukkan 2 pemain mudanya yakni Rizky Dwi Ramadhana dan Ichsan Kurniawan di menit 63 menggantikan Asri Akbar serta Patrich Wanggai.

“Itu juga bisa disebut sebuah perjudian. Namun sebagai pelatih tentu saya sudah memperhitungkan semuanya, karakter bermain Ichsan yang juga mengandalkan pressing tinggi sangat dibutuhkan untuk meladeni Arema,” ungkapnya.

Terkait penampilan Ichsan, Bendol mengaku cukup puas walau tetap memberikan catatan. “Ichsan dirinya harus terus mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya. Jika terus bermain seperti kemarin, dia akan mampu bersaing memperebutkan satu tempat di starting eleven SFC,” ujar Bendol mengomentari eks timnas U19 tersebut.

Hal yang sama juga disampaikannya mengenai performa Rizky Dwi Ramadhana yang menurutnya cukup mampu mengubah jalannya pertandingan. “Kecepatan Rizky memang dibutuhkan di babak kedua kemarin untuk merepotkan lini pertahanan Arema,” bebernya.

Dirinya pun menyatakan dalam menentukan pemain inti atau yang masuk dalam starting eleven murni berdasarkan kebutuhan tim. “Jadi 4 parameternya adalah kebutuhan taktik, teknik, conditioning dan mental, siapapun yang lebih siap dan memenuhi hal tersebut bisa saja bermain sejak menit pertama,” ungkapnya.

Dalam 5 laga sebelum babak semifinal, SFC juga menjadi satu-satunya tim yang selalu merubah starting elevennya di setiap pertandingan. Selain hal tersebut, Bendol juga menepis bahwa dirinya memainkan sepakbola negatif saat melawan Arema kemarin. “Saya pun menganggap apa yang kami lakukan kemarin bukanlah strategi parkir bus, walau sebenarnya hal tersebut pun sesuatu yang salah. Kami hanya melakukan pressing tinggi untuk meredam agretifitas Arema yang selalu bermain dengan tempo cepat saat di kandangnya,” pungkasnya.