Tingginya animo penonton yang hadir langsung di leg kedua babak semifinal Piala Presiden antara Sriwijaya FC melawan Arema Cronus, Minggu (11/10) dimanfaatkan sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab. Meski sudah dilakukan langkah pencegahan dengan baru menyebar tiket beberapa jam sebelum pertandingan, namun Panpel Persis Solo selaku pelaksana pertandingan tetap menemukan sejumlah tiket palsu.

Pelaku yang tertangkap tangkap sedang mengedarkan tiket palsu ini ini pun langsung diamankan pihak Polresta Surakarta untuk diinterograsi. “Tiket palsu yang disita sekitar 30-an lembar.  Namun diyakini jumlahnya akan bertambah saat nanti kami kembali memilah sobekan tiket,” terang Ketua Panpel, Heri Isranto.

Dikatakannya, seorang pelaku yang diamankan polisi justru bukan berasal dari Surakarta, namun berasal dari Surabaya. Seorang penjual tiket palsu lainnya disebutnya berhasil melarikan diri saat hendak diamankan. Oleh karena itu, Heri pihaknya akan segera kembali memeriksa sobekan tiket untuk dapat mengetahui kerugian material yang disebabkan oleh penjualan tiket palsu ini.

“Penjualan tiket palsu ini tercium saat dimana stadion sudah penuh, namun masih ada transaksi penjualan tiket di luar stadion,” imbuh pria yang akrab disapa Gogor ini. Saat diamankan polisi, pelaku mengaku hanya menjual tiket yang didapatkannya dengan membeli dari orang yang tidak dikenalnya di sekitar stadion. Untuk itu, saat ini pihak Kepolisian disebutnya masih terus berupaya mengusut tuntas penjualan tiket palsu ini.

Terkait gelaran laga yang dimenangkan oleh Sriwijaya FC dengan skor 2-1 itu, Heri menyebut ada sekitar 900 lembar tiket dari tribun timur yang berharga Rp 50 ribu per tiket yang belum terjual dari jumlah total 22 ribu lembar tiket yang dicetak Panpel. Tidak terjualnya tiket ini karena sempat adanya kebrutalan saat antrean penonton hendak membeli tiket di salah satu loket.

Guna menghindari penjarahan, akhirnya uang hasil penjualan serta tiket yang belum terjual akhirnya terpaksa diamankan. “Pemasukan kotor penjualan tiket kemarin sekitar Rp 900 juta lebih. Itu belum termasuk biaya operasional yang mencapai Rp 300 juta lebih,” bebernya lagi.(foto: sri nugroho)