Manajemen Sriwijaya FC menyatakan sikap tegas untuk mendesak bergulirnya kompetisi Indonesian Super League (ISL) musim 2015. Bahkan manajer laskar wong kito menyatakan dirinya menilai sekalipun ada kemungkinan jumlah klub peserta berkurang, tidak akan berpengaruh pada mutu atau kualitas kompetisi secara umum.

“Justru akan semakin menurun kualitas jika terus-terusan diundur, jadi saya berharap ISL pada 4 April nanti segera dimainkan sesuai kesepakatan terakhir,” ujar kepala dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumsel ini saat dihubungi Selasa (31/3) sore. Menurutnya, yang paling terpenting dilakukan oleh operator ISL yaitu PT Liga Indonesia dan PSSI adalah bagaimana meningkatkan mutu kompetisi yang pada akhirnya akan bermuara pada prestasi timnas Indonesia.

“Apakah ada jaminan juga jika kompetisi diikuti 18 klub akan jauh lebih baik? Saya pikir kalaupun 12 klub bukan sebuah masalah,” ungkapnya. Diakuinya, permasalahan baru akan timbul jika tetap dipaksakan namun keuangan klub peserta bermasalah saat kompetisi berjalan. “Bayangkan jika kembali ada gaji pemain yang tidak dibayar atau klub yang mundur karena tidak sanggup lagi membiayai operasional, jadi PSSI dan PT Liga harus tegas,” ungkapnya.

Dalam pandangannya, sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan sepakbola termasuk BOPI di Indonesia memikirkan solusi bagi ISL. “Jangan sampai hanya karena kepentingan sebuah klub maka seluruhnya harus menanggung, di awal musim pun sudah ada Persiwa dan Persik Kediri yang dinilai tidak layak. Klub seperti SFC yang sudah menyiapkan tim sejak Desember tahun lalu terkena dampak paling besar,” tambahnya.

Diakuinya, SFC saat ini tidak dalam posisi lebih menyukai format 18 klub atau 12 klub, tetapi lebih berharap segera ada kepastian bergulirnya ISL. “Jangan diundur lagi, kalau memang harus 18 klub mengapa tidak dari dulu saja. Dan seandainya hanya digelar dengan peserta sebanyak 12 klub, mutu kompetisi akan tetap terjaga,” pungkasnya.

Hal serupa dikatakan oleh Patrick Wanggai, pemain SFC yang musim lalu sempat merumput di Liga Malaysia. “Disana (Liga Malaysia-red) kompetisi tertinggi juga hanya diikuti oleh 12 klub, lalu satu level dibawahnya juga 12 klub, tapi ada 3 kejuaraan selama 1 musim kompetisinya. Saya pikir saat ini kita sudah harus berpikir bagaimana meningkatkan kualitas ISL, lihat bagaimana Thailand sudah semakin maju, padahal dulu kita jauh lebih baik dari sisi pelaksanaan kompetisi profesionalnya,” ujarnya singkat.