Tidak ingin mengulangi kesalahan perekrutan pemain seperti saat di turnamen Piala Jenderal Sudirman lalu, manajemen Sriwijaya FC kini terkesan sangat selektif dan berhati-hati dalam mempersiapkan skuad anyar di 2016. Sebelumnya, banyak piha berpendapat bahwa perekrutan Osas Saha dan Simone Quintieri merupakan panic buying laskar wong kito.

Pelatih SFC, Beny Dollo sendiri mengakui bahwa pihaknya memang sangat dirugikan dengan buruknya 2 penampilan pemain asing tersebut saat turun di turnamen PJS lalu. “Seharusnya pemain dapat jujur dengan kondisinya, seperti Simone yang saat kami kontak mengaku fisiknya tidak bermasalah dan untuk mengatasi jet lag di perjalanan hanya perlu recovery selama 2-3 hari. Nyatanya di lapangan, apa yang ditampilkannya jauh dari harapan,” ujar eks pelatih timnas ini.

Simone sendiri akhirnya memutuskan mundur dari SFC sebelum putaran grup A berakhir dengan alasan fisiknya tidak siap bermain di tengah ketatnya jadwal pertandingan PJS. Bendol sendiri mengaku bahwa dalam laporan evaluasi yang dibuatnya, faktor kebugaran pemain pun menjadi salah satu elemen penting

Kini standar tinggi dan ketat pun diterapkan oleh manajemen PT SOM agar hal tersebut tidak terulang lagi jelang menghadapi sederet agenda di tahun 2016.        “Kami tidak ingin beli kucing dalam karung, yang jelas pemain direkrut harus sesuai dengan kebutuhan tim dan memenuhi syarat awal yang ditetapkan seperti kondisi fisiknya harus prima. Memang di turnamen PJS waktu persiapan sangat mepet, nanti kedepan seperti saat di QNB League lalu, para pemain akan kita wajibkan mengikuti medical check up terlebih dulu untuk mengetahui riwayat medisnya,” ujar sekretaris tim SFC, Achmad Haris.

Hal yang sama pun disampaikan kelompok suporter SFC, Singa Mania terkait standar ketat perekrutan pemain. “Di luar negeri, medical check up sudah menjadi standar umum. Namun sayangnya di Indonesia hal tersebut seperti terlupakan, padahal manajemen perlu tahu rekam jejak medis pemain. Jika sudah ada bawaan cedera sebelumnya, tentu hal tersebut bisa dipertimbangkan,” tegas Ariyadi Eko, ketum Singa Mania.

Menurutnya, tidak hanya pemeriksaan medis, rekam jejak pemain pun jangan sampai disepelekan oleh manajemen SFC kedepannya. “Kita masih ingat dulu bagaimana seorang Christian Vaquero, pemain asing asal Uruguay yang sudah datang ke SFC, melakukan pemeriksaan medis dan kemudian mengikuti latihan bersama pemain lainnya. Namun keteledoran administrasi membuat dirinya gagal bergabung karena klub asalnya tidak memenuhi syarat yang ditentukan PT Liga Indonesia, hal seperti ini tentu tidak boleh terulang lagi,” pesannya.