Laskarwongkito.com – Ada yang tahu, berapa usia jembatan Kertapati yang tak jauh Stasiun KA Kertapati? Ternyata, usianya lebih tua belasan tahun dibanding Jembatan Ampera. Tepatnya dibangun pada tahun 1939.

Kala itu, karena belum ada Jembatan Ampera, jembatan tersebut termasuk bangunan fenomenal di Sumsel.  Seiring perkembangan zaman, jembatan ini kurang mendapat perhatian masyarakat. Padahal, sebagai bagian dari sejarah panjang Palembang, jembatan ini lebih kokoh dibanding Jembatan Musi II.

perang-5-hr-5-mlm

(sumber foto: lemabang.files.wordpress.com)

Catatan pasti tentang sejarah jembatan Ogan di Kertapati masih misteri. Mengingat, para pelaku sejarah pun banyak yang sudah meninggal. Dugaan lain, catatan tentang pembangunan jembatan ini, sudah dibawa pulang penjajah ke negerinya, Belanda.

Di masanya, jembatan tersebut merupakan alat yang sangat vital, tempat lewatnya tentara serta kendaraan perang ketika terjadinya pertempuran. Mulai dari pertempuran Belanda melawan Jepang hingga perang lima hari lima malam.

Bahkan, saat Jepang masuk, Belanda dikabarkan menghancurkan jembatan untuk menghambat pergerakan tentara Jepang. Sempat menggunakan kayu sebagai penyangga, tahun 1956, jembatan tersebut akhirnya kembali dipugar.

Dibangun Dari Pajak Petani Karet

Berdasarkan keterangan dari literatur berjudul “Palembang Zaman Bari” karangan sejarawan serta budayawan, almarhum Djohan Hanafiah, didapat data jika jembatan tersebut dibangun tahun 1939 lalu dan diresmikan dengan nama Wilhelmina Brug (Jembatan Wilhelmina-red).

Jembatan-Kertapati.-Di-bawah-jembatan-ini-bakal-dibangun-dermaga.

(sumber foto: bulletinmetropolis.com)

Disebutkan bahwa, pembangunan jembatan dikatakan berasal dari sumbangan dari para petani-petani karet. Di mana setiap kati getah karet dikenakan satu sen.

Meski ada beberapa masyarakat mengungkapkan jika pembangunan menggunakan tenaga romusha, sumber lain menyebutkan jika dana pembangunan jembatan berasal dari sumbangan petani karet di Sumsel. Tepatnya pajak. Karena karet pada saat itu dan hingga sekarang, memiliki tingkat keekonomisan tinggi.

Secara stuktur, jembatan Ogan Kertapati termasuk kokoh. Selain itu, sumber yang sama menyebutkan jika jembatan yang dibangun Belanda tersebut lebih kuat dibanding Jembatan Musi II yang umurnya lebih muda karena dibangun tahun 1992.

Alasannya, dengan stuktur beton bertulang, bentang jembatan lebih pendek serta tidak begitu beratnya beban di atas, jembatan Ogan diperkirakannya akan lebih bertahan lama. Bisa jadi. Karena saat ini, hanya kendaraan beban tak begitu berat dapat melintas di jembatan Ogan.

Saat inipun, jalurnya hanya diarahkan satu arah. Dari Simpang Jakabaring menuju Terminal Karya Jaya. Truk hingga tronton dengan beban berat diwajibkan melintas melalui jembatan Musi II yang kini dilewati kendaraan dua arah. (red/dil)

Artikel Terkait