PALEMBANG — Tingginya permintaan luar negeri terhadap perawat dar Indonesia membuat besarnya peluang lapangan kerja bagi tenaga kesehatan. Pada tahun 2014 saja tenaga kesehatan yang bekerja diluar negeri mencapai 9.280 orang dengan perkiraan tahun 2019 menjadi 13.100 orang dan pada 2025 akan menjadi 16.920 orang.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, Drg.Giono Susilo dalam Konsultasi Publik ‘Perundingan, Perdagangan Jasa Kesehatan di Fora Multilateral, Regional, dan Bilateral’ di Hotel Aryaduta, Rabu (08/09).

Giono mengatakan, ada lebih dari 20 negara yang membutuhkan tenaga perawat khususnya negara maju,  khusus negara-negara maju sudah beralih ke manajerial akhirnya untuk  layanan kesehatan sudah  ditinggalkan.

“Saya sampaikan tadi, sekarang dengan kerjasama ideba dibutuhkannya sudah banyak, setiap tahun hampir 100 orang dikirim untuk tenaga perawat, itu untuk satu negara Jepang,” jelasnya.

Selain itu, sekarang negara Kuwait  membutuhkan tenaga perawat fisioterapi. Persyaratannya tidak harus bahasa Arab tetapi pengetahuan berbahasa Inggris dan akan ada pelatihannya.

“Jerman bulan Mei tadi Jerman butuh 30 ribu untuk perawat saja, selain i fisioterapi juga dibutuhkan. Artinya, peluangnya sangat besar dengan kerjasama bilateral, multilateral kita harus mengisi peluang yang ada. Penghasilan sangat besar bisa Rp12 juta perbulan dan bila sudah lulus kopetensi dinegara itu akan mempunyai gaji dua kali lipat. Oleh karena itu peluang harus kita kejar pasar diluar. Institusi pendidikan harus memberikan extra kurikuler dalam hal bahasa Inggris, Arab,  Jepang atau Jerman,” katanya.

Ditambahkannya, dari Kementerian Kesehatan pengiriman harus melalui Govermen to Govermen (G to G) atau Govermen to Privat (G to P), Pihaknya menekankan pada govermen  untuk memberikan perlindungan, bukan hanya tenaga kerja tetapi dalam hak tenaga kerja juga, baik negara penerima maupun pengirim.

“Untuk tenaga perawat yang menjadi kendala kita saat ini adalah pada belum terbiasa bekerja diluar,  cukup puas dengan penghasilan di Indonesia. Juga dalam hal bahasa  itu menjadi tugas institusi pendidikan. Keunggulan perawat Indonesia adalah ramah, pekerja dan tidak banyak tuntutan, ikhlas dalam bekerja itu merupakan hasil penelitian dari Jepang,”ungkapnya.

Dikatakannya, dalam hal tenaga perawat Indonesia pesaingnya adalah Negara Philipina, Negara Banglades, dan Negara India namun yang lebih banyak diminta dari Indonesia.

“Saat ini Suriname membutuhkan perawat dari indonesia dengan persyaratan berbahasa Jawa, lebih dari 20 negara meminta tenaga perawat, selain itu negara-negara  timur tengah juga meminta tenaga perawat Indonesia,” ungkapnya.

Selain itu negara Libya juga meminta, tetapi pihaknya menolak karena negara Libya sedang tidak aman, keselamatan tenaga kerja sebagai bahan pertimbangan untuk mengirim.
(juniara)

RelatedPost