Persebaya United yang sudah berganti nama menjadi Bonek FC menghadapi banyak masalah saat akan menantang tuan rumah Sriwijaya FC di leg kedua babak 8 besar Piala Presiden 2015, Minggu (26/9) sore di stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang.

Tidak hanya dipusingkan oleh permasalahan internal yang memaksa klub asal Surabaya ini harus mengganti nama dan logo di ajang Piala Presiden, adaptasi terhadap permasalahan kabut asap yang tengah berlangsung di Palembang juga dikhawatirkan mempengaruhi permainan Evan Dimas dkk nantinya.

“Soal asap ini sangat pelik, karena pemain dan kita semua tetap ingin main. Karena di tengah peliknya permasalahan sepakbola di tanah air, pertandingan seperti ini menjadi barang mahal dan sulit. Jadi sekalipun di lapangan berlumpur, pemain kita akan siap turun,” ujar asisten pelatih fisik Bonek FC, Troy Medicana saat sesi jumpa pers, Sabtu (26/9) siang di hotel Swarna Dwipa Palembang.

Namun dirinya mengakui bahwa tuan rumah memiliki sedikit keuntungan karena sudah lebih dulu beradaptasi dengan cuaca di Palembang yang menurutnya sangat berbeda dengan Surabaya. “Jika seperti ini, seharusnya usai leg pertama kemarin kami langsung kesini agar bisa menyesuaikan diri. Tapi kami pastikan seluruh pemain tetap akan bertanding untuk menjaga nama dan harga diri warga Surabaya,” tegasnya.

Meski memiliki keuntungan keunggulan di leg pertama, dirinya pun menyatakan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah jaminan dan memastikan tetap akan bermain normal. “Akan jadi blunder jika kami sudah puas dengan kemenangan 1-0 kemarin, bermain bertahan juga bukan pilihan bijak. Jadi kami datang tidak dengan target mencari hasil imbang,” tambahnya.

Sementara itu, asisten pelatih SFC Hartono Ruslan mengatakan pemain laskar wong kito sudah siap tempur dan berjuang merebut 1 tiket ke babak semifinal. “Persiapan sudah kami lakukan, seluruh pemain pun siap turun. Termasuk kiper Dian Agus Prasetyo yang kemarin sempat cedera, SFC hanya akan kehilangan Patrich Wanggai karena hukuman akumulasi kartu kuning,” jelasnya.

Terkait perubahan nama Persebaya United menjadi Bonek FC, eks pelatih Persik Kediri mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang dapat memberikan keuntungan bagi anak asuhnya. “Hanya nama yang berganti, namun pemainnya masih sama, begitu juga pelatih atau manajemennya. Jika ingin lolos harus bekerja keras selama 90 menit dan bukan memanfaatkan situasi internal tim lawan yang sedang goyah,” ungkap Hartono.

Kiper Dian Agus Prasetyo yang juga turut di sesi jumpa pers mengatakan bahwa laga ini sangat penting bagi dirinya dan seluruh pemain SFC. “Di tengah ketidakpastian sepakbola Indonesia, masa depan kami pun dipertaruhkan. Jadi kami harus mengejar defisit dua gol untuk lolos dan terus bekerja. Jika sampai kalah maka segala sesuatunya akan kembali gelap karena kompetisi juga belum pasti digelar. Setiap laga adalah final bagi kami,” ujarnya singkat.