Lambatnya Mahaka Sports and Entertainment selaku promotor penyelenggara Piala Presiden dalam menentukan venue final Piala Presiden mendapat tanggapan dari kelompok suporter Sriwijaya FC. Keputusan mengenai venue final yang mempertemukan laskar wong kito dengan Persib Bandung ini akhirnya baru ditetapkan secara resmi pada Rabu (14/10) sore di Jakarta.

“Kami menyadari bahwa memang ada potensi konflik yang timbul saat laga final ini digelar di GBK, karena bukan rahasia umum lagi bahwa hubungan bobotoh selaku supporter Persib Bandung dengan Jakmania selaku tuan rumah tidak harmonis, namun itu bukan kapasitas kami untuk mengomentarinya. Yang kami sesalkan pihak penyelenggara seolah mengabaikan bahwa ada 1 lagi finalis yang akan bermain di partai puncak itu,” ujar ketua umum Singa Mania, Ariyadi Eko Neori saat dihubungi Rabu (14/10) sore.

Menurutnya, dengan lambatnya Mahaka menyampaikan kepastian venue final, maka akan berpengaruh pada persiapan supporter SFC yang akan bertolak ke GBK. “Artinya jika baru diumumkan pada Rabu (14/10) sore, kami hanya punya waktu efektik sekitar 2 hari untuk mempersiapkan semuanya. Kemarin memang sebagia sudah kami kerjakan, namun anggota pun ragu sebab dari Mahaka seperti tidak yakin dan ada potensi untuk dipindahkan,” ungkapnya.

Jarak Palembang – Jakarta yang cukup jauh seharusnya dapat menjadi pertimbangan bagi Mahaka untuk secepatnya memberi kepastian soal venue final. “Jika dalam kondisi normal, maka Palembang – Jakarta bisa ditempuh dengan waktu 18-20 jam, tentu persiapannya akan lebih rumit ketimbang tim yang dapat menempuh GBK kurang dari 3 jam dari kota asalnya,” jelasnya.

Selain itu, kuota untuk supporter SFC yang sangat timpang bila dibandingkan dengan Persib Bandung juga menjadi salah satu sorotannya. “Pernyataan CEO Mahaka bahwa Persib mendapat jatah tiket 30 ribu, sementara SFC hanya 5 ribu sangat kami sesalkan. Seharusnya jika sudah berbicara mengenai partai final, maka kedua tim mendapat hak yang sama dan tidak ada perbedaan. Apakah karena secara geografis Persib diuntungkan sehingga punya jatah lebih banyak,” keluhnya.

Dirinya mencontohkan bagaimana hak supporter Persipura di final ISL 2014 yang dimainkan di stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring tahun lalu. “Meski kita semua tahu, bahwa jumlah mereka tidak akan sebanyak bobotoh, namun tidak ada pernyataan bahwa mereka dibatasi. Indonesia bukan hanya milik Jawa saja, namun dari Sabang sampai Merauke. Pada akhirnya meski pendukung Persib yang mendominasi, namun kehadiran pendukung Persipura tetap diakomodir, sekarang mampukah hal yang sama juga dilakukan oleh Mahaka,” tegasnya.

Karena kekecewaan tersebut, beberapa akun sosmed SFC di dunia maya pun membuat tagar#SumateraJugaIndonesia. “Sebagai finalis, tentu kami juga punya hak yang sama untuk mendukung tim kebanggaan SFC selama 90 menit nanti. Menang dengan terhormat, dan kalaupun hasilnya berbeda, biarkan kami pulang dengan kepala tegak,” cuit akun @sriwijayaisme..