Kegaduhan sepakbola nasional yang terus tersaji belakangan ini mendapat keprihatinan dari kelompok suporter Sriwijaya FC, Singa Mania. Suporter yang identik dengan warna hijau dan menempati sisi tribun utara stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring ini pun menegaskan kepada Menpora –PSSI untuk segera mengakhiri kisruh sepakbola di tanah air.

Dalam rangkaian peringatan ulang tahun ke-10 yang jatuh pada 5 Mei, Singa Mania juga menggelar aksi keprihatinan untuk menyikapi masalah ini. Spanduk yang bertuliskan ‘Stop Kegaduhan Sepakbola Nasional, Menpora – PSSI Berdamailah’ pun dipasang di simpang 5 DPRD Kampus Palembang yang menjadi pusat lokasi aksi Singa Mania.

Beberapa karton yang bertuliskan ‘Menpora, Jangan Ada Dusta Diantara Kita, Football For Unity – Not For You Political Man, Sepakbola Hiburan Wong Cilik, Jangan Ganggu Hiburan Kami Demi Kepentingan Pribadi, dibawa oleh Singa Mania dalam aksinya. Selain itu, mereka juga menggelar pertandingan sepakbola jalanan karena pertandingan sudah dilarang dan tidak mendapatkan izin dari Menpora.

“PSSI mungkin masih banyak kekurangan, namun niat baik Menpora untuk memperbaiki sepakbola nasional dengan membekukan PSSI justru menimbulkan masalah baru. Kami berharap agar kedua belah pihak dapat segera duduk bersama kembali lagi dan menyelesaikan masalah ini dengan budaya khas Indonesia yakni musyawarah mufakat,” ungkap ketua umum Singa Mania, Ariyadi Eko usai aksi.

Dirinya menambahkan, sebagai pecinta sepakbola Indonesia sangat wajar jika sedikit khawatir dengan aksi Menpora yang banyak mendapat masukan dari mantan pengurus Indonesian Premier League (IPL) yang duduk di BOPI. ‘Mereka dulu pernah diberi amanat untuk memimpin PSSI, namun gagal dan sama seperti generasi sebelumnya justru memperpanjang potret buram organisasi sepakbola di negeri ini,” tambahnya.

Terkait PSSI sendiri, dirinya pun berpesan untuk juga segera menyelesaikan semua permasalahan yang menjadi catatan Menpora. “Tidak semuanya buruk, ada beberapa yang kami anggap sebagai cambuk bagi PSSI agar lebih berbenah lagi. Sebenarnya bukan hanya pemain dan klub yang menjadi korban di situasi ini, namun seluruh masyarakat Indonesia. Apalagi Palembang bersama Jakarta akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 nanti, nama baik bangsa dipertaruhkan disini. Jangan menganggap enteng sanksi FIFA, jika itu turun akan sangat mencoreng nama bangsa dan bisa-bisa persiapan menuju pesta olahraga terbesar di Asia itu menjadi terhambat,” pungkasnya.