Laskarwongkito.com —Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Bupati Batubara, Sumatera Utara OK Arya Zulkarnaen karena diduga menerima suap miliaran rupiah terkait beberapa proyek di daerah yang dia pimpin.
Siapakah sosok OK tersebut?

OK Arya Zulkarnaen lahir di Solo pada 24 Maret 1956. Dia adalah bupati satu-satunya yang masuk dalam sejarah terpenting di Indonesia. Sebab, Arya menjadi bupati pertama yang dua kali berturut-turut menang lewat jalur independen.

Pada tahun 2008, dia bersama wakilnya Gong Matua Siregar berhasil memenangkan pemilihan bupati yang diikuti oleh delapan calon tersebut dengan meraih suara sebesar 34 persen. Saat itu dia diangkat sebagai sebagai bupati Batubara untuk periode 2008-2013.

(sumber foto: netralnews.com)

Lalu pada tahun 2013, dia kembali berhasil memenangkan pemilihan bupati untuk periode 2013-2018 dengan perolehan 65.899 suara atau 36,6 persen dari jumlah pemilih suara sah sebanyak 180.806 jiwa. Saat itu dia berpasangan dengan Harry Nugroho.

Sebelum menjabat sebagai bupati, dia sempat menjabat berbagai posisi di pemerintahan. Selama jenjang karirnya tersebut, banyak isu negatif menghampiri dia. Mulai dari kinerja kepemimpinannnya yang kurang baik, hingga lolos dari banyaknya laporan dugaan korupsi yang dia lakukan.

Pertama, dugaan penggelapan pajak lampu penerangan jalan saat dia masih menjabat sebagai Kabag Pertamanan dan Tata Kota di Pemkab Deli Serdang. Kasus itu sempat diadili hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung.

Kedua, saat Arya menjabat sebagai Kepala Bagian Keuangan di Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai muncul permasalahan penyimpangan dana sosial.

Ketiga, hilangnya dana non reboisasi sebesar Rp 8 miliar, saat dia menjabat sebagai pelaksana tugas Sekdakab Serdang Bedagai. Saat itu dia sempat beberapa kali diperiksa KPK. Namun dia tidak ditetapkan sebagai tersangka.

Keempat, kasus dugaan korupsi pembangunan 7 kantor SKPD Pemkab Batubara.

Kelima, hilangnya kas Pemkab Batubara sebesar Rp 80 miliar.

Itu belum termasuk Rp 130 miliar, dana proyek pembangunan di Batubara yang telah di tenderkan dan diumumkan pemenangnya pada tahun 2012, tapi tak kunjung dikerjakan.

Seperti yang diketahui, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan Bupati Batubara OK Arya Zulkarnaen diduga menerima suap Rp 4,4 miliar terkait pengerjaan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Batubara tahun 2017. Suap itu diberikan dua orang kontraktor bernama Maringan Situmorang dan Syaiful Azhar. OK Arya diduga menerima Rp 4 miliar, yang merupakan pemberian fee terkait tiga proyek.

Proyek tersebut yakni pembangunan Jembatan Sentang senilai Rp 32 miliar yang dimenangkan oleh PT GMU dan proyek pembangunan Jembatan Sei Magung senilain Rp 12 miliar yang dimenangkan PT T.
Sementara Rp 400 juta sisanya merupakan fee yang diperoleh OK Arya dari Syaiful terkait dengan proyek betonisasi jalan Kecamatan Talawi senilai Rp 3,2 miliar.

Uang suap dari tiga proyek tadi tidak disimpan sendiri oleh Bupati OK Arya. Dia menitipkannya kepada Sujendi Tarsono alias Ayen, seorang pemilik dealer mobil. Sewaktu-waktu jika diperlukan, OK Arya tinggal meminta kepada Sujendi.

Dalam operasi tangkap tangan, KPK mengamankan total uang Rp 346 juta. Uang tersebut diduga terkait fee dari proyek Jembatan Sentang dan Jembatan Sei Magung.

Rinciannya, sebanyak Rp 250 juta di antaranya disita KPK dari tangan KHA, seorang pegawai swasta. KHA bertugas mengambil uang Rp 250 juta itu dari Sujendi. Uang itu diberikan Sujendi kepada KHA atas perintah Bupati Batubara.

Sementara Rp 96 juta, disita KPK dari MNR, yang merupakan supir istri Bupati. Uang Rp 96 juta merupakan sisa dana dari permintaan Bupati sebesar Rp 100 juta, yang ditransfer Sujendi kepada AGS, seorang staf Pemkab Batubara.

KPK menetapkan lima tersangka pasca operasi tangkap tangan (OTT) di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Selain Bupati Batubara OK Arya Zulkarnaen, empat pihak lain yang juga menjadi tersangka yakni Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Helman Herdady, seorang pemilik dealer mobil Sujendi Tarsono alias Ayen, dua orang kontraktor bernama Maringan Situmorang dan Syaiful Azhar.

Kasus ini berkaitan dengan suap kepada Bupati Batubara OK Arya Zulkarnaen pada proyek pengerjaan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Batubara tahun 2017.

Sebagai pihak yang diduga penerima, OK Arya, Sujendi, dan Helman disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 KUHP.

Sementara sebagai pihak yang diduga pemberi, Maringan dan Syaiful disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayar (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.

Setelah lolos dari berbagai kasus dugaan korupsi, apakah kali ini dia akan lolos kembali? (dil/net)

Artikel Terkait