PALEMBANG — Manajemen Sriwijaya FC secara resmi mengajukan surat banding kepada PT Gelora Tri Semesta selaku operator kompetisi Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 terkait kepemimpinan wasit Thabrani saat memimpin pertandingan laskar wong kito melawan PS TNI, Sabtu (6/8) kemarin. Salah satu yang poin yang disampaikan adalah insiden di menit 55 babak kedua saat penyerang SFC, Alberto Goncalves dihadiahi kartu kuning oleh wasit Thabrani.

“Setelah melihat rekaman video dan berkonsultasi dengan banyak pihak, maka kita putuskan mengajukan surat keberatan dan meminta agar operator TSC 2016 dapat melihat ulang serta menganulir keputusan tersebut,” ungkap sekretaris tim SFC, Achmad Haris saat dikonfirmasi Senin (8/8) sore.

Pemain asal Brasil tersebut sendiri dijatuhi hukuman kartu kuning oleh wasit Thabrani (Surabaya) karena dianggap membuang bola di menit 56 babak kedua. Praktis dengan hukuman KK tersebut, Beto harus absen di laga berikutnya melawan Arema Cronus (14/8) karena sebelumnya sudah mengantongi 2 KK serupa.

KK pertama diperoleh Beto saat melakoni laga perdana TSC 2016 melawan Persib Bandung (30/4) dan KK kedua didapatnya di pekan keempat saat bertandang ke kandang Bhayangkara Surabaya United (22/5) di Sidoarjo. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh manajemen SFC ini juga tidak melanggar aturan dan sudah diatur dalam regulasi kompetisi. “Setiap tim memang diperbolehkan untuk mengajukan keberatan atau protes terkait pertandingan,” tambahnya.

Dalam rekaman video, terlihat memang Beto secara refleks menendang bola hasil umpan Anis Nabar ke gawang PS TNI tersebut. “Sebagai seorang striker maka tugas saya adalah mencetak gol, maka saya tetap menendang bola karena tidak mendengar peluit wasit. Kiper PS TNI pun juga melakukan yang sama karena memang suasana di stadion sangat riuh jadi kami tidak jelas mendengar peluit itu,” ungkap Beto saat dikonfirmasi.

Dirinya pun mengaku heran wasit Thabrani langsung memberinya hukuman kartu kuning terkait insiden tersebut. “Seharusnya ada peringatan terlebih dulu, saya juga baru melakukan protes setelah wasit memberi kartu kuning karena ada yang menyebut KK itu diberikan karena protes berlebihan,” tambahnya.

Langkah manajemen SFC ini sendiri mendapat dukungan dari kelompok suporter SFC yang menilai bahwa apa yang dilakukan wasit tersebut memang dapat diperdebatkan. “Di luar negeri, KK yang bermasalah dapat ditinjau dan dianulir. Di TSC ini pun sudah ada beberapa keputusan komdis yang akhirnya berubah setelah ada banding, seperti hukuman terhadap kiper Semen Padang, Jandia Eka Putra lalu hukuman larangan bermain di kandang terhadap Madura United,” ungkap Arga Marshall dari komunitas SFC Kaskus. (dedi)

RelatedPost