Dukungan terhadap tim Ad Hoc untuk memperbaiki kondisi sepakbola nasional terus diberikan oleh manajemen Sriwijaya FC. Presiden SFC, Dodi Reza Alex sendiri memendam optimisme bahwa dibawah nahkoda Agum Gumelar, tim Ad Hoc bentukan FIFA ini akan segera menunjukkan kinerja positif terkait kisruh berkepanjangan sepakbola Indonesia.

“Pak Agum Gumelar jangan takut untuk memberantas parasit sepakbola nasional, termasuk juga di PSSI bila memang ada. Namun kami juga berharap agar pemerintah dalam hal ini dapat bersinergi dan memberikan back up terhadap kinerja tim Ad Hoc tersebut,” ujar anggota DPR RI tersebut saat ditemui di Palembang, Minggu (20/12) malam.

Ditegaskannya, pihaknya mendukung langkah tim Ad Hoc yang langsung bekerja cepat mencari penyelesaian masalah sepakbola di Indonesia yang berujung jatuhnya sanksi FIFA. “Seperti kami utarakan tadi, silahkan jika memang mau membersihkan PSSI kalau memang ada kekurangan, namun jangan organisasinya atau PSSI dimatikan,” ujar Dodi.

Menurutnya, FIFA sudah membuat keputusan yang tepat dengan menunjuk sosok Agum Gumelar sebagai ketua tim Ad Hoc karena memang memiliki segudang pengalaman dan pengetahuan mengenai sepakbola di tanah air. “Dulu pak Agum pun sudah pernah menjadi Ketua Normalisasi yang juga dibentuk FIFA saat terjadi dualisme di tahun 2011/2012 lalu,” ungkapnya.

Dirinya pun berharap dibawah tim Ad Hoc dan dukungan dari pemerintah kedepannya, kompetisi sepakbola di Indonesia sudah dapat bergulir kembali seperti biasa. “Jadi bukan hanya di level Indonesian Super League (ISL), namun juga di semua level tingkatan. Baik Divisi Utama, Liga Nusantara ataupun kompetisi usia dini,” harapnya.

Pihaknya pun memahami bahwa akibat kisruh berkepanjangan ini, banyak pihak yang menjadi korban, mulai dari pemain, pelatih, suporter hingga masyarakat umum lainnya. “Terutama dari sisi pemain, mereka tentu kehilangan potensi pendapatan karena pembekuan PSSI dan tidak adanya kompetisi yang bergulir,” tambahnya.

Karena itu, dirinya pun menyatakan bahwa manajemen SFC sangat peduli terhadap kesejahteraan para pemainnya dan memberikan gaji yang lebih besar dari ketentuan yang ditetapkan sebelumnya. “Para pemain adalah aset tim dan menjadi keluarga besar SFC, karena itu kami juga harus memikirkan nasibnya. Soal besaran nilainya, kami bersyukur jika memang ternyata di atas kebijakan yang dikeluarkan PSSI sebelumnya,”  pungkasnya.

Seperti diketahui, untuk menghadapi maraknya turnamen yang akan digelar di 2016, manajemen SFC menegaskan akan memberikan kebijakan pembayaran gaji sebesar 45 persen. Jumlah tersebut jauh di atas surat edaran PSSI sebelumnya yang mewajibkan klub memberikan gaji minimal sejumlah 25 persen. Kontrak para pemain laskar wong kito akan tetap memakai durasi per turnamen yang diperkirakan akan berlangsung minimal selama 3 bulan, dengan catatan bila ada kejelasan mengenai kompetisi nantinya maka akan diadakan renegosiasi ulang dan gaji dibayar penuh.