Sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kelangsungan tim Sriwijaya FC, Robert Heri mengaku punya pandangan tersendiri terkait gonjang-ganjing sepakbola nasional yang berujung belum jelasnya kompetisi Indonesian Super League (ISL) hingga saat ini. Manajer laskar wong kito tersebut menilai dengan situasi terkini di tanah air, maka kompetisi sepakbola tertinggi di tanah air tersebut akan sulit digelar.

Menurutnya, bukan hanya faktor perseteruan antara Menpora dengan PSSI semata yang membuat ISL nantinya akan sulit kembali bergulir. Perekonomian tanah air yang sedang memburuk diakuinya akan sangat berpengaruh dan seluruh klub peserta ISL pasti juga terkena dampaknya. Diakuinya, krisis ekonomi yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah juga berimbas bagi pelaku sepakbola di tanah air, tidak terkecuali SFC.

“Contohnya saat meneken kontrak dengan salah satu pemain asing Goran Ljubojevic, asumsinya dulu kurs dollar masih sekitar Rp 10 ribu, nah dengan kenaikan yang cukup besar saat ini tentu pasti ada pengaruhnya,” ungkap Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumsel ini. Dalam pandangannya, nilai rupiah yang ideal untuk saat ini adalah di kisaran Rp 11 ribu – Rp 12 ribu.

Lebih lanjut dikatakannya, meskipun secara resmi PSSI dan PT Liga Indonesia mengatakan bahwa ISL tidak akan digelar hingga akhir tahun 2015 dan kemungkinan dilaksanakan awal tahun depan, bukan berarti semua masalah akan selesai. “Klub juga rasanya masih akan kesulitan mencari sponsor, karena hampir seluruh perusahaan terkena dampak krisis. Tentu jika mereka saja belum surplus atau untung, bagaimana bisa mensponsori klub olahraga,” jelasnya.

Namun SFC sendiri masih cukup beruntung karena beberapa sponsor di wilayah Sumsel masih terus berkomitmen mendukung di tengah krisis ekonomi saat ini. Peran pemerintah diakuinya akan sangat penting dan menentukan terhadap kelangsungan dunia sepakbola di tanah air. “Bukan hanya dukungan seperti perizinan atau penyediaan infrastruktur, namun juga mendorong perusahaan-perusahaan baik swasta maupun BUMN untuk membantu dan berperan aktif mendukung dengan cara mensponsori klub-klub di tanag air,” harapnya.

Saat SFC melawat ke stadion Kanjuruhan Malang guna melakoni laga di putaran grup B Piala Presiden, manajemen PT SOM juga melihat bagaimana Arema Cronus mendapat dukungan tidak hanya dari perusahaan besar, tapi juga industri UKM. “Untuk di Palembang rasanya sulit, karena mereka pun pasti terkena imbas dari krisis, tapi sebenarnya Arema punya modal lain yakni fanatisme besar dari suporternya yang selalu memenuhi stadion saat laga digelar, hal yang sama kami juga harapkan bisa diikuti oleh pecinta SFC saat berlaga di stadion GS,” pungkasnya.

Sementara itu, Ariyadi Eko ketua Singa Mania berharap manajemen SFC dapat mencontoh manajemen Arema yang sukses meraih sponsor dari UKM di Malang. “Kita lihat di a-board stadion Kanjuruhan ada Bakso Bakar Cak Man, usaha kuliner lokal. Semoga nanti di GSJ suatu saat kita bisa melihat Pempek Pak Raden, Pindang Musi Rawas, Mie Celor 26 Ilir pasang a-board sebagai bentuk dukungan bagi SFC,” harapnya.