PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (pemprov Sumsel) bekerjasama dengan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menggelar kegiatan seminar nasional mengenai Inovasi pemerintah daerah pada era masyarakat ekonomi Asean (MEA) di Griya Agung, Selasa (19/7).

Rektor IPDN, Ermaya Suradinata yang hadir sebagai keynote speaker dalam sambutannya mengungkapkan, Alex Noerdin adalah sosok pemimpin yang visioner dan bisa membangun Sumsel tanpa menggunakan APBD. “Kepada 40 calon Doktor yang hadir saat ini, harus belajar kepada Bapak Alex Noerdin bagaimana memimpin dengan inovasi, sehingga bisa membangun daerah walaupun tanpa dana APBD. Pak Alex juga saya panggil Profesor karena inovasi dan kemampuan memimpinnya,” katanya.

Ia menambahkan, dalam memimpin pemerintahan tidak perlu alergi dengan politik karena politik adalah bagian pemerintahan dalam arti luas. “Politik adalah bagaimana kita menjunjung demokrasi. Demokrasi adalah kebebasan yang beretika. Saya berharap Alex tetap akan memimpin, tetapi pada tingkat nasional,” harapnya.

Sementara itu Alex Noerdin menanggapi, bahwa dia hanya orang lapangan yang bekerja untuk masyarakat. “Kadang dalam teori tidak sama dengan prakteknya dilapangan, jadi saya hanya memanfaatkan peluang pada era otonomi daerah untuk melakukan inovasi,” ungkapnya.

Menurutnya, Gubernur harus melihat keluar tidak lagi melihat sesuatu yang tidak ada guna, beda dengan bupati dan walikota yang harus melihat kedalam, apa yang ada  di daerahnya. ” Kalau ingin mengetahui pemimpin itu bagus atau tidak dapat dilihat dari happiness index masyarakatnya. Kepala daerah yang bagus pastilah happiness index masyarakatnya baik,” tukasnya.

Apalagi, sambungnya strategi Sumsel yang mempunyai keinginan besar tetapi tidak mempunyai uang untuk membangun adalah investasi. Investasi akan masuk kalau orang kenal, orang mau, dan tertarik. “Maka kami memakai strategi even olahraga yang bersifat internasional,” lanjutnya.

Dijelaskannya, selain mengadakan even yang bersifat internasional, infrastruktur juga harus ditingkatkan. Oleh karena itu Sumsel membangun infrastruktur, sebagai contoh Light Rail Transit  (LRT) bukan hanya untuk mengatasi kemacetan, tetapi infrastruktur yang mengubah kultur masyarakat Sumsel.

“Isu kedepan adalah lingkungan, terutama setealah Sumsel mengalami kebakaran pada tahun 2015 lalu. Tetapi kita mengambil hikmah dari musibah itu. Dengan Kebakaran hutan kita bisa mendapat bantuan dari beberapa negara baik ilmu pengetahuan dan maupun dana. Jakabaring akan kita jadikan Green City artinya kota yang ramah lingkungan dengan air yang dapat langsung diminum dari keran, listrik menggunakan tenaga surya, dan mobil berbahan bakar Hidrogen,” tutupnya. (juniara)

RelatedPost