PALEMBANG — Pemerintah provinsi Sumatera Selatan (pemprov Sumsel), melalui Dinas PU Pengairan terus mengoptimalkan fungsi kolam retensi di Sumsel yang digunakan sebagai salah satu tempat penampungan air pada saat curah hujan tinggi untuk menanggulangi banjir.
Selain membangun kolam retensi disejumlah titik rawan banjir seperti dikawasan Sekip Bendung dan Simpang Bandara, Dinas PU Pengairan juga membangun beberapa kolam retensin di titik lainnya juga yang saat ini masih dalam kajian.
Kasubag Program dan Perencanaan Dinas PU Pengairan Sumatera Selatan, Hendri Wijaya, rabu (16/11) mengatakan, agar efektif lokasi pembangunan kolam retensi harus ditempatkan di sekitar daerah rawan banjir. Namun, karena lokasi banjir berada ditengah pemukiman padat penduduk, masalah ganti rugi lahan selalu menjadi masalah karena tingginya biaya pembebasan lahan.

“Untuk daerah pemukiman belum bisa kita lakukan pembangunannya karena biaya pembebasannya terlalu tinggi. Selain itu juga butuh waktu untuk merubah pola pikir masyarakat untuk membuat mereka mengerti pentingnya kolam retensi untuk pengendalian masalah banjir.” Jelas Hendri.

Menurut Hendri, karena masalah pembebasan lahan, realisasi pembangunan kolam retensi seperti Sekip Bendung yang seharusnya dimulai sejak tahun 2013 belum dapat dilalukan sampai dengan saat ini.

“Tidak mudah melalukan negosiasi dengan warga. Mereka bahkan merasa lebih baik selalu menghadapi banjir tiap tahun daripada harus menyerahkan lahannya. Tapi kita terus lakukan upaya pendekatan.” Tukas Hendri.

Lebih lanjut ia menambahkan tidak hanya masalah pembebasan lahan, penanggulangan masalah banjir juga terkendala minimnya kawasan resapan air, penyempitan dan penyumbatan saluran air yang dalam penanganan masalahnya membutuhkan koordinasi dengan pihak terkait.

“Kami juga melakukan koordinasi dengan pemerintah kota sebagai pemilik wilayah, dengan harapan upaya penanggulangan bisa dilaksanakan secara bersamaan,” pungkasnya. (juniara)

RelatedPost