PALEMBANG — Meski belum diumumkan secara resmi, namun sosok pelatih Sriwijaya FC untuk musim depan sepertinya akan mengarah ke Rahmad Darmawan. Apalagi salah satu pengganjal untuk merekrut RD yakni kontrak bersama klub asalnya T Team di Liga Malaysia sudah teratasi.

Menarik untuk ditunggu, apakah pelatih yang sudah memberikan 5 gelar juara bagi laskar wong kito ini akan benar-benar datang ke Palembang atau hanya sekedar rumor semata. Bila jadi bergabung, maka RD akan menjadi pertama di SFC yang pernah dua kali menukangi tim kebanggaan masyarakat Sumsel ini.

Dalam sejarahnya, sejak berdiri 13 tahun lalu, RD merupakan pelatih keempat yang memimpin skuad SFC saat didatangkan di awal musim 2007/2008 lalu. Sejauh ini, Hartono Ruslan yang memimpin tim di kompetisi Liga 1 Indonesia 2017 lalu merupakan pelatih ke-11 yang pernah menjadi arsitek tim SFC.

Diawali Henk Williams, pelatih asal Australia yang memimpin tim SFC saat baru pertama kali dibeli pada tahun 2004 lalu. Namun kebersamaan Henk Williams tidak berlangsung lama, karena di musim perdana ini posisinya digantikan oleh Jeny Wardin di akhir putaran pertama.

Jeny Wardin pun tercatat sebagai pelatih dengan masa kerja tersingkat di SFC karena hanya menangani tim di 2 pertandingan dan manajemen SFC saat itu memilih Suimin Diharja sebagai upaya menyelamatkan tim dari jerat degradasi.

Suimin yang saat itu berhasil membawa SFC lolos dari degradasi akhirnya mendapat penghargaan dan kontraknya pun diperpanjang musim berikutnya. Barulah di musim ketiga, SFC yang menginginkan perubahan dan mengincar gelar juara membuat keputusan cukup mengejutkan dengan memboyong RD yang baru saja menjuarai Liga Indonesia bersama Persipura, termasuk juga pemain terbaik saat itu Christian Warobay.

Selama 3 musim, RD berhasil memberikan 4 gelar bergengsi bagi SFC termasuk juga catatan fenomenal double winner di musim 2007/2008 serta hattrick Piala Indonesia selama kurun waktu tersebut. Meski cukup berhasil, kebersamaan bersama RD tetap berakhir di musim 2010 dan tempatnya diisi oleh pelatih asing asal Bulgaria, Ivan Kolev.

Mantan pelatih timnas tersebut ternyata hanya bertahan 1 musim dan manajemen kembali membuat keputusan mengejutkan dengan memberikan kesempatan kepada asisten pelatih Kashartadi untuk naik pangkat. Perjudian besar ini ternyata berbuah manis dan gelar juara kembali dapat direbut pada musim 2011/2012. Namun hengkangnya sejumlah pemain pilar semusim kemudian membuat pelatih asal Solo ini tidak dapat berbuah banyak dan harus kehilangan mahkota tersebut.

Tampuk pelatih kepala SFC pun diserahkan kepada Subangkit yang saat itu baru saja mengantarkan SFC U21 menjuarai kompetisi Indonesian Super League (ISL) U21 2012/2013. Tetapi lagi-lagi Subangkit hanya mendapat kesempatan memimpin selama semusim dan harus menyerahkan jabatannya di akhir tahun 2014 karena hanya membawa SFC duduk di peringkat 7 di klasemen akhir.

Target juara yang dibebankan manajemen di musim berikutnya membuat SFC menunjuk pelatih kawakan Beny Dollo di kursi panas tersebut. Tetapi adanya sanksi dari FIFA yang berujung pembekuan PSSI membuat Bendol hanya mendapat kesempatan memimpin di 3 laga kompetisi Qatar National Bank (QNB) League 2015.

Meskipun demikian, posisi Bendol terus dipertahankan dan tetap dipercaya membawa tim di sejumlah turnamen yang diadakan selama masa pembekuan tersebut. Barulah pada musim 2016 saat pembekuan dicabut, kontrak Bendol diakhiri dan Widodo C Putro mendapat kesempatan menjadi arsitek SFC.

Walau membawa SFC masuk ke 4 besar kompetisi Torabika Soccer Championsip 2016, WCP tetap mendapat evaluasi saat kompetisi Liga 1 Gojek Traveloka 2017 akan dimulai. Tempatnya digantikan oleh Oswaldo Lessa yang juga tidak bertahan lama dan hanya memimpin di 11 pertandingan, sehingga Hartono Ruslan bersama Keith Kayamba dipercaya menukangi tim hingga akhir musim lalu. (dedi)

Artikel Terkait