PALEMBANG – Desa Perigi Talang Nangka OKI merupakan kawasan lahan gambut yang ada di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), yang saat ini sedang menjadi sorotan dunia dan dikonsentrasikan sebagai objek program restorasinya pemerintah.

Kanal buatan dan lahan gambut itu merupakan sumber ekonomi bagi warga desa Perigi.  Rusli, salah seorang warga desa Perigi mengawali ceritanya saat kami berkunjung  mengelilingi kawasan gambut bersama tim peneliti gambut dari Center For International Forestry Research (CIFOR) ke Padang Sugihan Sembokor, Kabupaten Banyuasin, Sabtu (06/05)

Rusli, mantan pengepul purun. Ia pun terbawa suasana dan mengenang masa kecilnya di tanah kelahirannya ini. Rusli kecil hingga sekarang, mencari ikan dengan cara memancing, menangkul dan membubu hingga mengepul batang purun untuk dibuat tikar.

“Lah, di gambut ini keperluan lauk pauk kami terpenuhi. Jangankan lauk pauk, alas duduk atau untuk tidur juga terpenuhi. Bahkan bisa menjadi sumber uang, karena kami memproduksi tikar yang bisa untuk dijual,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan,  limpahan berkah dari alam itu berlahan-lahan menyusut. Alasannya, alam di desa kelahirannya itu mulai berubah, penyebabnya karena mudahnya kebakaran lahan gambut yang hampir setiap tahun, semenjak perambahan lahan gambut untuk kebun sawit di Sebokor.

“Kadar air di gambut ketika musim kemarau sedikit dan mudah kering karena banyak kanal-kanal di perkebunan sawit,” kata dia.

Selain itu, dampak lainnya dari kebakaran gambut membuat bahan pokok tikar purun berkurang. “Bahkan sudah dua tahun ini saya tidak mengepul purun lagi,” jelasnya lirih.

(Kegiatan Yahun saat mengayam purun)

 

Sementara, Pengrajin Purun di desa Perigi, Yahun (48)  sambil mempraktekkan cara menganyam tikar,  mengungkapkan berkurangnya bahan pokok purun di Desa Perigi membuatnya kesulitan. Ia mengakui kadang harus membeli bidas purun dari desa-desa tetangga dengan harga lebih mahal, kadang mencapai Rp 4.000.

Ia sadar betul, mengayam purun berlahan-lahan ditinggalkan masyarakat di Desa Perigi. Selain pengaruh berubahnya bentang alam yang berdampak minimnya bahan pokok, tantangan lainnya karena generasi muda yang tidak memiliki kempampuan untuk mengayam purun lagi.

“Karena itulah, saya mengajak dan mengajarkan ibu-ibu untuk kembali menganyam purun ini,” ujarnya sambil terus mempraktekkan menganyam purun.

Dengan lincah jari jemari memainkan perannya dalam merangkai batang purun yang sudah dikeringkan, menjadi sebuah tikar atau bentuk kerajinan lainnya. Sesekali mata kami memperhatikan, susunan purun sehingga menimbulkan pola/corak pada kerajinan yang dibuat.

Sangat rapi dan tersusun secara simetris. Selang seling ia menaikkan purun dengan hitungan dua di atas, dua di bawah dilanjutkan memasukan purun secara menyilang. Begitu terus sampai panjang dan lebar, hingga menjadi sehelai tikar. “Nama kelompok kami Tunas Hijau,” demikian Yahun, memperkenalkan nama kelompok yang dibentuknya.

Ia menceritakan, kelompok Tunas Hijau ini beranggota 30 orang dan berdirinya Januari 2017, lalu. Selama empat bulan ini, mereka telah mempraktekkan dan memproduksi tikar, tas, kotak tisu, toples dan kipas. “Semuanya berbahan dasar purun,” katanya.

Bagi Yahun, mengajarkan kreativitas buah tangan ini selain untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, juga untuk menjaga keseimbangan lahan gambut di desanya. “Purun itu tumbuh di lahan gambut desa, kalau masyarakat bisa memanfaatkannya, jelas nanti mereka akan menjaga gambut dengan kesadarannya sendiri. Bisa-bisa kebakaran tidak akan terjadi lagi. Yang penting itu, persediaan purun selalu ada di lahan gambut desa, jangan kalah melawan api dan perambahan perusahaan,” harapnya.

Namun Yahun tidak menampik, mereka masih terkendala untuk memasarkan hasil produksi mereka. Dengan demikian, mereka menghasilkan buah tangan dari purun itu tergantung permintaan saja.

“Kalau permintaannya ada, kami segera menyediakan. Tapi kalau membuat saja tanpa jelas pemasarannya kami sungkan juga, karena takut barang itu cuma sia-sia tersimpan,” ujarnya.

Yahun juga menjelaskan, harga barang-barang produksinya tergantung besar dan kerumitan anyaman. “Harganya ada yang Rp 50.000 hingga Rp 150.000 untuk satuannya,” tutupnya. (juniara).

Artikel Terkait