PALEMBANG — Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Palembang Peduli Kendeng menggelar aksi soidaritas terhadap perjuangan Petani Kendeng Lima diantaranya melakukan aksi pasung kaki dengan semen di simpang 5 DPRD provinsi Sumsel, Sabtu (25/03).

Hal ini juga merupakan bentuk empati atas meninggalnya petani Kendeng, Nyonya Patmi salah satu pejuang perempuan Kendeng dan Petani sekitar Pegunungan Kendeng yang turut dalam aksi penolakan pembangunan pabrik Semen Indonesia. Nyonya Patmi tutup usia pada 21 maret 2017 usai mengikuti aksi menyemen kaki di depan istana Negara untuk kedua kalinya.

Dalam aksi solidaritas di Palembang, terdapat empat tuntutan yang disampaikan yakni pertama, mengecam keras segala bentuk teror, intimidasi, politik, adu domba, dan kekerasan yang telah dialami petani Kendeng dalam mempertahankan hak-hak demokrasinya.

Kedua, mengencam tindakan Gubernur Jawah Tengah, Ganjar Pranowo sebagai pemangku kebijakan hanya mementingkan pembangunan dengan model ekstratif.

Ketiga, menuntut Presiden Joko Widodo berpihak kepada masyarakat Kendeng serts yang terakhir, menuntut pemprov Sumsel untuk tidak memberikan izin pertambangan kars dan batubara yang mengancam keberlangsungan kehidupan sosial ekologis.

“Kami melakukan aksi ini sebagai solidaritas dan keprihatinan atas meninggalnya Ny Patmi yang berjuang menolak pabrik semen dan kami menuntut kepada pemerintah Pusat dalam hal ini Presiden Jokowi, untuk mendesak Ganjar Pranowo sebagai gubernur untuk mencabut izin lingkungan untuk pembagunan pabrik semen, ” tegas Ketua Walhi Sumsel l, Hadi Jatmiko.

Hadi juga mengatakan,  jika sebagai Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo tidak mencabut perizinan pembangunan pabrik semen Indonesia, pihaknya akan memintakl pemerintah pusat untuk memberhentikan Gubernur tersebut.

“Kami memintak presiden Jokowi sesuai undang-undang untuk memberhentikan ganjar sebagai gubernur jawa tengah, Selain itu juga kami memintak pada pemerintah dalam tingkat lokal untuk menghentikan segala bentuk intimidasi kriminalisasi terhadap petani yang sedang melawan perampasan tanah untuk industri, “ujarnya.

Selain itu, Hadi juga meminta kepada pemprov Sumselagar tidak memeberikan izin untuk pembangunan pabrik semen dan tambang batubara yang selama ini juga merusak lingkungan.

“Karena pabrik pabrik seperti itu telah mengambil hak-hak rakyat terhadap lingkungan yang bersih untuk didaerahnya, ” kata dia.

Dalam aksinya, para pendemo memakai pakaian serba hitam dan memakai topi petani . Mereka juga membawa sejumlah poster yang antara lain bertuliskan ‘Sawah Habis di Negeri Agraris’, ‘Tolak Pabrik Semen’, ‘Tanahku Dirampas dan AKu Dibunuh’, juga ‘Tuntaskan Kasus Agraria’.(juniara)

Artikel Terkait