PALEMBANG — Upaya untuk mengenalkan dan mempromosikan Sumatera Selatan sebagai provinsi yang kaya akan potensi pariwisata di kancah dunia terus digiatkan oleh semua pihak.

Tidak hanya pemprov Sumsel, Indonesian Marketing Asociation (IMA), Indonesian Hotel General Manager Asociation (IHGMA) dan Garuda Indonesia serta Panorama Tour & Travel juga turut berpartisipasi mengembangkan potensi pariwisata yang dimiliki Sumsel melalui program Exploring Potential Of South Sumatra For Europe Tourtis In 2017.

Vice Chairman IHGMA Sumsel, Sarjuri mengatakan dengan program tersebut pihaknya mencoba untuk membuat Sumsel menjadi tujuan kota wisata yang membidik pasar Eropa. “Tidak menutup kemungkinan untuk negara-negara lain yang jelas dengan market Eropa kita berikan informasi tentang panorama yang ada di Sumsel,” jelasnya di hotel Arista, (22/8).

Selain akan mensosialisasikan panorama yang memang layak dikunjungi, Sarjuri juga menjelaskan akan memperbaiki fasilitas infrastruktur dan akomadasi menuju tempat wisata. “Ada 28 titik wisata, nanti akan kita survey dan dipilih mana yang lebih layak baru kita olah untuk kelengkapan fasilitas dan akomodasi. Mudah mudahan ini awal yang baik untuk semuanya,” ungkap Sarjuri yang juga GM Sintesa Peninsula Palembang.

Menurutnya, dari sisi standar hotel, kenyamanan dan potensi wisata Sumsel sudah sangat mumpuni. “Justru yang harus kita siapkan adalah sumber daya manusia, kita harus menyiapkan tourguide yang dapat memberikan pelayanan terbaik dan menceritakan sejarah pariwisatanya,” ucapnya.

Untuk persiapan perhotelan, diakui Sarjuri saat ini akan bekerjasama dengan agent traveler yang memasarkan tempay pariwisata unggul dan terbuka untuk semua. “Dari ini kita targetkan 2017 akan ada hasilnya,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Iren Camelyn mengatakan program yang diusulkan lIMA, IHGMA, Garuda Indonesia serta Panorama Tour & Travel adalah sebuah gagasan yang luar biasa dan pemprov Sumsel sangat mendukung.

Menurutnya, banyak orang Eropa yang berkunjung ke Sumsel dan tertarik dengan wisata cagar budaya, terutama wisata batu megalitikum di Kota Pagar Alam dan Kabupaten Lahat. “Sumsel mungkin belum optimal dalam mebgembangkan unsur destinasi, SDM dan promosi, tetapi dengan adanya program ini kami terpacu seolah-olah Sumsel ini lagi menggeliat. Ketika harga minyak dan batubara turun, maka yang eksis adalah bidang pariwisata,” ungkapnya.

Dilihat dari daftar buku tamu, pengunjung wisata cagar budaya di Sumsel banyak berasal dari. Oleh karena itu, Irene mengatakan ada lima unsur yang berperan yakni, pemerintah, industri, komunitas, media dan akademisi.

Dijelaskan Irene, dari sisi akomodasi dan transportasi, orang Eropa lebih tertarik dengan fasilitas yang alami. “Mereka mereka mencari yang natural, tidak berbicara ekslusifitas lagi karena sudah terlalu sering di daerahnya,” jelasnya.

Meskipun belum berbicara target kedepannya, Irene mengatakan hal yang terpenting cara mengolah potensi wisata yang dipasarkan. ” Kita sudah membuka akses tempat, seperti pariwisata alam yabg sudah ada tinggal bagaimana kita bersatu, baik dari pemangku kebijakan dan pihak lainnya untuk mengembangkan dan mengolah potensi tersebut” ajaknya. (juniara)

Artikel Terkait