Munculnya wacana aturan financial fair play serta regulasi salary cap pada pelaksanaan Indonesian Super League mendatang mendapat tanggapan dari eks kapten Sriwijaya FC, Ponaryo Astaman. Pemain yang juga menjabat sebagai Presiden Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) ini menyambut baik rencana tersebut walau diakuinya perlu pembicaraan lebih lanjut.

“Saya pikir karena aturan ini dipersiapkan dan isinya menyangkut hak pemain, alangkah baiknya jika pemain juga diajak duduk bersama sebelum aturan ini nantinya diterapkan. Karena sejauh ini kami baru mendengar dari media dan belum dimintai tanggapannya secara langsung oleh PT Liga Indonesia,” ujar Ponaryo saat dihubungi Kamis (30/7) sore.

Menurutnya, pemain memang perlu dilibatkan dalam penyusunan regulasi tersebut mengingat selama ini masih banyak terjadi kasus yang pada akhirnya berujung pada tunggakan gaji oleh klub. Saat ditanya apakah aturan ini sudah mendesak untuk diterapkan, pemain asal Balikpapan ini menyatakan bahwa hal tersebut lebih tepat ditujukan ke klub-klub d tanah air.

“Karena klub yang sebenarnya tahu kondisi keuangan masing-masing, tetapi sudah seharusnya klub memang berpikir untuk melihat kemampuan finansialnya sebelum membuat kontrak kerjasama dengan pemain. Jangan sampai di tengah jalan terjadi masalah, namun karena aturan ini masih dalam tahap penggodokan jadi kami masih akan menunggu terlebih dulu,” tambahnya.

Saat dimintai komentarnya mengenai konflik Menpora – PSSI yang kini memasuki babak baru pasca keputusan PTUN, Ponaryo berharap kedua lembaga tersebut dapat secepatnya saling bersinergi. “Ada yang bilang keduanya ibarat air dan minyak yang tidak mungkin bersatu, namun saya melihat dari sisi yang berbeda. Air dan minyak itu memang punya fungsi yang berbeda namun bisa saling melengkapi,” pungkasnya.